Sebuah Renungan: “Bukan Orang Kaya, Bila Sudah Mati, Mayatnya Numpang Dikuburan Umum”

INDONESIAPOST.CO – Benar adanya ucapan orang tua, yang dikatakan orang kaya, apabila si kaya itu meninggal dunia, mayatnya dikubur dilokasi tanah kuburan milik sendiri.

Tapi kita sering melihat, masih banyak orang kaya bisa membeli rumah mewah, beli tanah sawah, dan bisa beli mobil mewah. Tapi apa artinya, bila sudah mati ternyata mayatnya si kaya itu dikebumikan di kuburan umum. “TERLALU”.

Makanya yang dikatakan orang kaya, bila sudah mati si kaya itu, mayatnya tidak numpang (tidak ngampong, bhs maduranya, red) ketanah kuburan umum, akan tetapi mayatnya dikubur ditanah milik sendiri. Disitulah yang dikatakan jadi orang Kaya.

Oleh karenanya, kita perlu memperbanyak ingat MATI, sehingga kita hidup tidak selalu memikirkan duniawi saja, tapi juga perlu memikirkan untuk persiapan mati, untuk memiliki tanah kuburan punya sendiri, dan perbanyak kebaikan untuk sangu di akherat nanti.

Beberapa ahli waris H Ridwan, Desa Banyuanyar Lor, sedang membangun gudang tempat alat-alat kelengkapan katel untuk orang meninggal dunia di kuburan tanah milik H Ridwan./indonesiapost.co

Ada ceritra nyata, seseorang hidupnya sederhana/biasa saja, lalu dikatakan kaya, karena punya tanah pekarangan disumbangkan jadi kuburan umum.

Siapa orangnya itu? Tak lain seorang bernama, H Ridwan, Desa Banyuanyar Lor, Kec Gending, Kab Probolinggo.

Ini kisahnya:
Saya punya teman, bernama Sakir, warga Desa Banyuanyar Lor, Kecamatan Gending, berbincang-bincang, saat Sakir silaturahim dirumah saya.

Sakir: “Yang kaya di Banyuanyar lor ini, mertuamu yaitu pak H Ridwan.” kata Sakir pada saya.

Lalu saya kaget. “Kok bisa, mertua saya dikatakan kaya, padahal tidak punya mobil,” kataku penasaran atas ucapan Sakir.

Kemudian Sakir menjelaskan, di Desa Banyuanyar lor ini banyak orang kaya yaitu punya rumah mentereng, punya mobil dan punya tanah sawah. Tapi setelah meninggal, mayatnya dikubur di lokasi kuburan tanah milik mertuamu,” jelas Sakir, kalau mertua saya, H Ridwan, mempunyai sebidang tanah seluas 2.500 M2 disumbangkan sebagai kuburan umum.

Jadi yang dikatakan kaya, bukan memiliki rumah mewah, punya mobil dan banyak sawahnya. Namun yang dikatakan kaya, kalau mayatnya dikubur di tanah milik sendiri tidak numpang (tidak ngampong, bhs maduranya,red) dikuburan umum.

Dari kisah nyata ini, monggo kita semua mengoreksi diri bahwa kita akan mati dan jangan medit/kikir untuk iuran bersama membeli tanah pekarangan untuk dibuat kuburan umum, sehingga kita mati, mayatnya tidak numpang (tidak ngampong, bhs maduranya,red) ke kuburan umum.

Saya sering mendengar, banyak kuburan umum yang luasnya sedikit, sehingga warga kesulitan untuk mengubur keluarganya yang sudah mati. “Ada beberapa mayat tumpang tindih, dimakamkan 1 lubang kuburan.”
Ini jadi persoalan. “Terlalu”.
(Hm saudi hasyim jahur).