Sebelum Menghilang, Muchlas Adi Putra, Keliling se Kabupaten Probolinggo, Adakan Gelar “Cangkruan Nyareh Tretan”.

Oleh: HM Saudi Hasyim Jahur

Rumah kelahiran artis papan atas tahun 80 an, Muchlas Adi Putra, berdekatan dengan rumah saya sekitar 100 meter jauhnya.

Menjadi seorang artis terkenal di tahun 1985 hingga tahun 90 an itu, pastilah banyak penggemar khususnya kaum hawa yang kepincut pada, Muchlas Adi Putra, dan terbukti saat Muchlas pulang kampung, di Desa Sebaung, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, terlihat puluhan penggemar dari berbegai daerah berdatangan kerumahnya.

Saya pun saat itu, turut menyambut kehadiran para penggemarnya, Muchlas Adi Putra. Tanpa rasa malu, para penggemarnya berebutan meminta foto bersama dan minta tanda tangan sang artis asal kampung ini.

Muchlas Adi Putra, saat gelar Cangkruan Nyareh Tretan bersama bersama anggota DPR RI, H Hasan Aminuddin, mantan Bupati dua periode 2003-2013.
Ibu kandungnya, Ny Syuriah, bersama, Nurhayati, putri kedua Pimred Indonesiapost.co.

Dengan ciri khas senyuman manisnya, Muchlas AP, dengan gampang menandatangi semua penggemar yang memintanya itu.

Dari hari ke minggu, minggu ke bulan dan bulan ke tahun, tak selamanya kehidupan manusia akan terus jaya. Bagaikan sandiwara, ternyata hidup ada masanya.

Tahun 2010 mulai terlihat redup nasib, Muchlas Adi Putra, yang saat itu sudah tidak aktif lagi bernyanyi, tapi ia menekuni mengarang lagu atau pencipta lagu, hingga lagu ciptaannya dinyanyikan artis, Rita Sugiarto, pasangan nyanyi Raja Dangdut Rhoma Irama, hingga melejitlah lagu ciptaan Muchlas AP berjudul, “Iming-Iming dan lagu Dua Kursi”.

Dengan kevakuman, Muchlas AP, di dunia musik, ditahun 2010 ia tak betah hidup di kota Metropolitan Jakarta itu, lalu ia pulang kampung berjalan kaki dan menetap di rumah kelahirannya di Desa Sebaung.

Karena rumahnya berdekatan dengan rumah saya, Muchlas AP, lebih sering datang kerumah bersenda gurau hingga larut malam sambil berdialog soal agama dan sosial.

Betapa kaget dan kagumnya, saya mendengar ucapan dari Muchlas AP bahwa dirinya sudah bertobat tidak akan tampil di dunia musik dan akan lebih banyak pasrah berserah diri pada yang maha kuasa.

“Saya sudah setahun berguru pada Kyai di Banten. Dan beliau berkata, apa enaknya hidup di dunia ini, ketimbang di akherat nanti. Hidup yang kekal itu, ya di akherat. Makanya, saya bosan hidup di dunia ini pak Haji,” kata Muchlas pada saya.

Akhirnya, Muchlas, saya ajak mengikuti program “Cangkruan Nyareh Tretan”, yang saya lakukan setiap minggu berpindah-pindah tempat mendatangi Desa se Kabupaten Probolinggo. Dimana program mencari persahabatan itu, saya kemas dengan hiburan orkes tradisional dan diselingi dengan nada dan dakwah.

Muchlas pun setuju untuk menghibur masyarakat, karena acara nada dan dakwah itu, turut di undang seorang tokoh nasional, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, H Hasan Aminuddin, mantan Bupati Probolinggo 2003-2013, sebagai penceramahnya.

Pada tahun 2013 hingga 2014, saya bersama Muchlas Adi Putra dan sang guru politik, H Hasan Aminuddin, setiap malam minggu, berpindah-pindah menghibur masyarakat dan sekaligus sang guru politik, H Hasan Aminuddin, mengisi ceramah soal akhlak, sosial, pembangunan, dan toleransi, disampaikan kepada masyarakat yang hadir dalam acara Cangkruan Nyareh Tretan tersebut.

Setelah usai batas waktu kontrak kegiatan acara cangkruan nyareh tretan itu, Muchlas AP, mulai tidak punya job, hingga ia sering berdiam diri dan tak mau banyak bergaul. Bahkan Muchlas sering berdiam diri didalam kamar rumahnya.

Namun beruntung, istrinya, Nur Azizah, sering mendapat kirimam uang dari orang tuanya di Jakarta, sehingga hidup yang pas-pasan itu bisa makan setiap harinya.

Dibalik hidupnya yang redup itu, didengar oleh sang guru politik, H Hasan Aminuddin, sehingga turut prihatin dan tiap minggu beliaunya menyempatkan diri, menitipkan uang kepada saya, untuk diserahkan ke Muchlas Adi Putra. Bahkan Muchlas dan istrinya, pernah ditawari kerja sebagai sukwan atau honor daerah, namun dengan halus, Muchlas, menolaknya.

Tak lama kemudian, saya dikagetkan berita, Muchlas Adi Putra, menghilang tanpa jejak. Lalu saya bertanya pada ibu kandungnya, Ny Syuriah, dan dibenarkan kalau Muchlas Adi Putra sudah dua tahun lebih menghilang hingga kini, tak ada kabar beritanya.

Pimred Indonesiapost.co, HM Saudid Hasyim Jahur dan Muchlas Adi Putra, saat rekaman lagu Bimbinglah Hati. Indonesiapost.co

Malah ibu kandungnya, Ny Syuriah, menganggap, Muchlas AP, sudah meninggal dunia, karena sejak tahun 2017, anak yang pertama itu, pergi jauh tanpa jejak dan tak pernah memberi kabar hingga sekarang ini.

“Selama dua tahun lebih, saya tiap selesai sholat selalu berdoa semoga Muchlas masih hidup dan cepat pulang kerumah,” tutur Ny Syuriah, dengan linangan air mata, saat wawancara dirumah Pimred Indonesiapost.co, yang rumahnya masih bertetangga dengan rumah Muchlas Adi Putra, pada hari Sabtu (16/5/2020).

Kepergian Muchlas Adi Putra menghilang tanpa jejak, kini banyak tafsir bahwa Muchlas bukanlah menghilang tapi ia melakukan “Khalwat” yaitu suatu tradisi dalam tarekat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan cara menyepi hingga terkesan menghilang untuk menghadap pada Allah SWT.

Kalau kata orang Jawa, bisa jadi Muchlas itu melakukan moksa yaitu istilah moksa atau secara artian yang mudah, adalah meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad alias menghilang tanpa jejak, seperti kisah hilangnya Raja Siliwangi, Patih Gajahmada dan Prabu Brawijaya V. “Wallahualam Bissawab”.

Perlu ketahui, Muchlas Adi Putra, anak pertama dari seorang ibu, Ny Syuriah dan ayahnya, Matasan alias Prasmo.

Dan Muchlas AP, mempunyai adik kandung berjumlah 4 orang, yakni adik yang nomer dua bernama, Zaeni, meninggal dunia, adik ketiga, Sulaeha, meninggal dunia, dan yang masih hidup bernama, Endang, kini menjadi warga Aceh, Sumatra Utara dan adik ke empat, Siti Aminah, berada di Desa Sebaung berkumpul ibu kandungnya di Desa Sebaung.(bersambung/***)