Perang Yaman Berkecamuk, Anak Wabup Tak Takut Mati Demi Mencari Ilmu.

PROBOLINGGO,indonesiapost.co – Sekalipun perang saudara berkecamuk dan terus menerus terjadi tembak menembak yang disertai dengan ledakan Bom, Ai??antara kelompok syiah Houthi Ai??dengan tentara Pemerintah di negara Yaman, tidak membuat takut mati bagi seorang pemuda, M Ramdan Fidi Zafrizal firdaus (22 thn) anak Wakil Bupati Probolinggo, Drs HA Timbul Prihanjoko, yang sudah 4 tahun mencari ilmu di negara Yaman tersebut.

Dan setelah sukses menimba ilmu agama di negara Yaman itu, hari Senin (11/9/2017) kemarin M Ramdan Fidi Zafrizal Firdaus, pulang kekampungnya di Desa Pendil, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo.

Betapa bangganya, seorang ayah H Timbul Prihanjoko, dan keluarga yang lain, tentang kepulangan anaknya dengan selamat dan sukses mencari ilmu hingga Fidi, panggilan tiap harinya sukses meraih gelar S1 dibidang syariah.

Foto M Randan Fidi Zafrizal Firdaus bersama keluarga dan guru ngajinya Syech Muhammad bin Ali bin Moh Baattiah./hm saudi hasyim jahur

Menurut Wabup Probolinggo, H Joko, menerangkan, dirinya dan keluarga yang lain sudah pasrah dengan kenekatan sang anak, Fidi, disekolahkan ke Negara Yaman walau negara itu terjadi perang saudara.

Selain karena kemauan besar dari sang anak mencari ilmu ke negara Yaman, sang ayah H Joko, hanya bisanya berdoa agar anaknya selalu sehat dan selamat dari peperangan yang berkecamuk di negara Yaman tersebut.

“Memang istri saya kadang kala menangis dan berdoa bila ingat sama ananda Fidi. Tapi setelah saya sadarkan kalau anak lagi mencari ilmu, barulah ia sabar menunggu sampai Fidi sukses meraih gelar S1,”terang H Joko, didampingi istrinya, Hj Nunung, dan mengaku dalam hidupnya dikaruniai 3 orang anak, yakni anak pertama, M Randan Fidi Zafrizal Firdaus, anak kedua M Ramdan fidi Syaifullah, dan anak ketiga, Ahmad Noval.

Menurut Fidi, dalam kisahnya selama mencari ilmu, bermula Fidi mondok di Pesantren PIQ (Pesantren Ilmu Alqur’an) dikota Singosari, Malang, pada tahun 2007.

Setelah tamat sekolah Madrasah Aliyah (setara SMA), lalu sang pengasuh pondok PIQ, KH M Basori Alwi, mendapatkan informasi bahwa bagi siswa atau santri yang lulus tes kitab kuning Fatulqorib dan mampu berbahasa Arab, maka para santri disekolahkan ke negara Yaman secara gratis.

Kemudian Fidi, barhasil sukses dan lulus dalam persyaratan tersebut. “Alhamdulillah…Dari puluhan santri, kami lulus dalam tes bahasa arab itu,”terang Fidi, gembira berhasil kuliah ke luar negeri Ai??Yaman itu.

Dan tahun 2013, Fidi, selanjutnya dikirim ke Negara Yaman tepatnya di Kota Mukallah, sekitar 200 KM ke ibukota Yaman yakni Kota Tarim Hadramaut salah satu kota yang dikenal Sejuta Kota Wali.

“Alhadulillah… kami ditempatkan disuatu lembaga pendidikan milik Syech Muhammad bin Ali bin Moh Baattiah dan sekaligus sebagai rektor di kampus itu.”jelasnya.

Setelah dua tahun mencari ilmu di kota Mukallah, Fidi, tiap minggu dihubungi ayahnya, H Joko, melalui ponselnya agar Fidi segera pulang karena Kota Yaman tidak aman dan terjadi perang saudara.

Namun bagi Fidi, menolak untuk pulang ke Indonesia karena belum selesai kuliahnya. Bahkan Fidi tidak takut mati, demi mencari ilmu dinegara yang berkecamuk perang saudara tersebut.

“Selama syech menjamin keselamatan kami dan para siswa yang lain, kami tidak akan pulang sampai kami lulus kuliah,”tegas Fidi, mengaku hati kecilnya juga ada rasa kangen pada kedua orang tuanya.

Setelah 4 tahun menimba ilmu di kota sejuta wali itu, Fidi, akhirnya sukses lulus dan berhasil meraih sarjana S1.

“Karena sudah lulus dan se ijin guru Syech Muhammad bin Ali, akhirnya kami pulang dengan selamat,”kata Fidi, mengaku ilmu yang dimiliki akan disalurkan ke siswa/siswi di yayasan milik ayahnya H Joko, yakni Yayasan “Nurus Samsyi” yang membawahi TPQ Al Ikhlas, Madin, SDI, SMP Islam, dan pendidikan Penghafal Alquran.(bersambung/aud)
Ponstel price south africa Order himcocid Order micronase generic
Editor: hm saudi hasyim jahur