Penusuk Jendral (Purn) Wiranto, Terdakwa Dihukum 12 Tahun Penjara, Istrinya Divonis 9 Tahun Penjara

JAKARTA,INDONESIAPOST.CO – Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat, Masrizal SH, hari Kamis (25 Juni 2020) kemarin, memvonis terdakwa, Syahrial Alamsyah alias Abu Rara, dengan hukuman 12 tahun penjara, dan istrinya, Fitri Diana, divonis 9 tahun penjara, sedangkan anaknya, Samsudin alias Jack Sparrow, dihukum 5 tahun penjara.

Dalam sidang putusan itu, Majelis Hakim PN Jakarta barat, secara meyakinkan bahwa para terdakwa terbukti bersalah melakukan penusukan terhadap korban, Jendral (purn) Wiranto, saat berkunjung ke acara Reuni di Pondok Persantren Di Pendeglang Banten, pada tanggal 19 Oktober 2019 lalu.

Dalam sidang tersebut, Majelis Hakim menyatakan, Abu Rara terbukti melanggar Pasal 15 junto Pasal 6 junto Pasal 16 Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003, tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-undang.

“Tarrdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan, bersalah melakukan tindak terorisme dengan mengajak istri dan anak, sebagaimana dalam dakwaan satu dan dakwaan dua. Majelis Hakim, menjatuhkan pidana kepada Abu Rara dengan pidana penjara selama 12 tahun penjara,” ujar Ketua Majelis Hakim Masrizal SH, di dalam ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis, 25 Juni 2020, dan istri Abu Rara bernama, Fitri Diana divonis 9 tahun penjara.

Sidang putusan terdakwa, Abu Rara, penusuk mantan Panglima ABRI, Jendral (Purn) Wiranto./indonesiapost.co

Putusan tersebut Abu Rara dituntut empat tahun lebih rendah dari tuntutan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), yaitu 16 tahun pidana penjara, sedangkan putusan untuk, Fitri Diana, tiga tahun lebih rendah dari tuntutan Jaksa penuntut umum yang semula dituntut 12 tahun.

Sementara itu, Abu Rara, diberi kesempatan untuk mengajukan banding apabila merasa keberatan dengan putusan majelis hakim. Namun secara tegas, ia menyatakan menerima putusan tersebut. “Bismillah saya terima putusan hakim tanpa cela,” kata Abu Rara, dalam video tayangan vidio teleconference.

Atas perbuatan itu, Abu Rara, meminta maaf kepada korban penusukan, yaitu Ahmad Fuad Sauqi, mantan ajudan Wiranto, Daryanto, mantan Kapolsek Menes, dan ajudan Danrem Maulana Yusuf, Yogi.

“Saya meminta maaf atas kejadian yang menimpa bapak. Apabila ada orang terkena imbas maka terdakwa meminta maaf,” pintanya.

Seperti dilansir di beberapa Media bahwa surat dakwaan JPU mengungkapkan, pasangan suami-istri itu mengetahui mantan Menkopolhukam, Wiranto, akan berkunjung ke wilayah Menes, Pandeglang, Banten, pada Kamis 10 Oktober 2019.

Setelah mengetahui akan ada kunjungan Menkopolhukam Wiranto, terdakwa Abu Rara, menyampaikan kepada istrinya, Fitria, tentang rencana untuk melakukan penyerangan terhadap Wiranto. Syahrial mengajak Fitria dan seorang anaknya.

Untuk menyerang mantan Panglima ABRI itu, Abu Rara, memberikan dua bilah pisau kepada istri dan anaknya. Kemudian mereka berangkat untuk menyerang Wiranto di Alun-alun Menes, Pandeglang Banten.

Selain Wiranto, diserang oleh Abu Rara, juga Kapolsek Menes Kompol Dariyanto, dan Ahmad Fuad Sauqi, mantan ajudan Wiranto, Daryanto, mantan Kapolsek Menes, dan ajudan Danrem Maulana Yusuf, Yogi, turut di serang dengan menggunakan pisau kunai

Aksi itu kemudian diikuti istrinya. Sedangkan, anaknya melarikan diri ketika mengetahui orang tuanya ditangkap.

Akibat serangan itu, Wiranto mengalami luka terbuka di perut sebelah kiri dan luka di lengan kiri akibat senjata tajam dari Abu Rara.

Sementara, Kompol Dariyanto menderita luka terbuka di bahu kiri dan siku tangan kiri, kemudian korban yang lain, H.A Fuad Syauqi mengalami luka tusuk di dada kanan dan kiri.

Atas perbuatan itu, JPU menilai, terdakwa telah melakukan permufakatan jahat, persiapan, percobaan atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme.

Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas.

Menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain.

Atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional dengan melibatkan anak.(ind/**)