Santri Ponpes “Nuridahlani” Desa Tarokan, selain Menimba Ilmu Agama dan Umum, Juga di Progam Santripreneur.

PROBOLINGGO,Indonesiapost.co – Pondok Pesantren merupakan lembaga formal dan non formal yang bergerak di bidang pendidikan. Dalam Pesantren identik dengan ilmu yang erat kaitannya dengan agama dan juga pendidikan ilmu pengetahuan umum.

Kini Pondok Pesantren “Nuriddahlani”, Desa Tarokan, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, yang masih berumur belasan tahun ini, mengalami kemajuan pesat dibidang pendidikan formal, dan ratusan santrinya, selain menimba ilmu kitab kuning, namun para santri juga secara formal bersekolah di MI (Madrasyah Ibtidaiyah), SMP dan Aliyah (setara SMA) adalah milik pondok pesantren sendiri.

Pengasuh Ponpes “Nuriddahlani”, KH Faiz Mahfudz Samsul Hadi (ditengah pakai jas hitam) bersama keluarganya, dan foto hasil racikan kopi bubuk, “Nida Coffee”./Indonesiapost.co

Semula pengasuh dan pendiri Ponpes Nuriddahlani adalah KH Mahfud Samsul Hadi, dikenal sebagai Da’i kondang dan pernah menjadi asisten Da’i sejuta umat, KH Zainuddin MZ Jakarta,

Namun pada tahun 2012, KH Mahfudz, sapaan akrabnya, berpulang kerahmatullah atau meninggal dunia, dan kini penerusnya pengasuh ponpes tersebut adalah putra yang pertama, yakni, KH Faiz Mahfud, yang biasa disapa Gus Faiz.

Setelah ponpes Nuriddahlani dikelolah Gus Faiz, keberadaan pesantren bertambah maju, para santriwan dan santriwatinya, yang menimba ilmu tak hanya urusan agama dan pendidikan ilmu pengetahuan umum, namun ratusan santri itu mulai diajari berbisnis dan berkreatifitas, berupa program Santripreneur, yakni program pengembangan industri kecil dan menengah (IKM), dimana santri mulai dilatih mengelola usaha racikan kopi bubuk Arabica, dan usaha Jamur, juga pembuatan pupuk dari limbah organik dan berternak kelinci untuk dijual dagingnya.

Racikan kopi bubuk itu, ada tiga arian rasa, yaitu ada rasa Robusta, rasa Leberika alias nangka, dan rasa arabica, sehingga nilai minuman kopi bubuk itu, cocok untuk semua kalangan.

“Racikan kopi bubuk yang dikelolanya ini ber merk, “Nida Coffee”. Sedangkan harga per bungkusnya sebesar Rp 15 ribu. Hasil penjualan kopi bubuk itu, keuntungannya, selain masuk ke kas Pesantren, juga untuk para santri yang bekerja meracik kopi bubuk tersebut”.

“Para santri yang dilatih bekerja mengelola atau meracik kopi bubuk itu, dikerjakan saat hari libur tanggal merah, dan juga diwaktu istirahat sekolah. Sehingga para santri yang punya bakat meracik kopi bubuk, bisa memproduksi sebanyak-banyaknya,” terang Gus Faiz Mahfud, didampingi Kasek SMP Nuriddahlani, HM Toha, yang juga Ketua MWC NU Kecamatan Banyuanyar, saat ditemui Wartawan, Sabtu (11/7/2020) dirumahnya.

Pengurus MWC NU Banyuanyar, HM Toha, HM Saudi Hasyim Jahur (tengah), dan Gus Faiz Mahfudz Samsul Hadi, penerus mengasuh Ponpes, “Nuriddahlani”./Indonesiapost.co

Selain para santri menimba ilmu agama dan pengetahuan ilmu umum, mereka yang kreatif bisa memiliki keahlian meracik kopi bubuk, dan mengelola jamur. Maka pengasuh masih memberi fie uang, tapi harus ditabung, sehingga dalam waktu setahun, si santri itu bisa membantu keluarganya dan bila sudah terjun ke masyarakat, maka mantan santri ini bisa trampil dan berkaya hingga memproduksi hasil karya sendiri.

“Hasil karya para santri, meracik dan membungkus coffee (kopi) bubuk, dan jamur, maka barang hasil racikannya terus dijual ke warung-warung, ke Supernaket , bahkan sebagian sudah terjual hingga keluar kota, seperti ke Madura dan Bandung dengan melalui online,” jelas Gus Faiz Mahfud, diakui HM Toha, turut mempromosikan dan menjual kopi bubuk tersebut, kepada para sahabat dan koleganya, baik yang berada di wilayah Kecamatan Banyuanyar ataupun diluar Kota Probolinggo.(ind/bersambung)

Berita besok :
Kopi Arabica Asli Tanaman Dari Kaki Gunung Bromo. Diracik Oleh Tenaga Ahli Khusus di Ponpes “Nuriddahlani” Tarokan.