LSM Permasa Minta Pemkab Bentuk Tim 9, Libatkan Kodim, Polisi, Sidak Lokasi Perusahan Meneral Water “Alamo”

PROBOLINGGO,Indonesiapost.co – Setelah ada temuan diduga lalai tentang pembuatan sumur resapan bagi PT Bromo Tirta Lestari, yang dikenal meneral water “Alamo”, di Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, oleh anggota DPRD Kabupaten Probolinggo Komisi III, membuat beberapa masyarakat turut resah, karena dikhawatirkan ratusan sumur disekitar lingkungan pabrik meneral water “Alamo”, menjadikan air sumurnya kering hingga masyarakat bakal kekurangan air minum.

Ketua LSM PERMASA, H Saudi Hasyim Jahur (baju batik biru), dan H Fathoni (Jas hitam), anggota DPRD Kab Probolinggo Fraksi Gerindra dan Para Anggota Dewan Komisi III./Indonesiapost.co

Para anggota Dewan Komisi III, mengaku kaget setelah mengetahui pabrik air minum Alamo yang sangat besar produksinya itu, diduga lalai dalam kewajibannya membuat sumur resapan air.

Wakil rakyat itu, berharap pada Pemkab Probolinggo, agar pabrik air minum Alamo segera di tekan, membuat sumur resapan, yang bisa menampung air hujan, sehingga airnya bisa menyerap ke sumur milik rakyat, dan masyarakat tidak sampai kekurangan air minum, dan juga bisa menghindari amblesnya tanah disekitaran pabrik meneral water Alamo tersebut.

“Kalau tidak segera dibuatkan resapan sumur, bisa jadi Desa Banjarsari ambles kebawah tanah. Makanya, saya berharap Bupati Probolinggo, segera menindak tegas, kalau ada perusahaan sudah sering diperingati masih ngeyel,” tegas H Fathoni, fraksi Gerindra, seusai kunker Rabu (26/8/2020).

Menanggapi temuan anggota Dewan ini, Ketua LSM Permasa (Perkumpulan Masyarakat Bersatu) Probolinggo, H Saudi Hasyim Jahur, turut prihatin mendengar Perusahaan raksasa dikawasan Probolinggo ini, diduga lalai belum memenuhi peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Saudi, sapaan tiap harinya, meminta pada Kepala Dinas Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemkab Probolinggo, untuk segera membentuk Tim 9, termasuk aparat Kodim 0820 dan Polres Probolinggo untuk dilibatkan, sidak ke lokasi pabrik Alamo, mengecek secara langsung dan apa alasannya, pihak pabrik meneral water Alamo itu, tidak membuat sumur resapan. Padahal, sudah 23 tahun berdiri, membangun pabrik air minum yang paling besar di Probolinggo ini.

“Saya berharap segera dibentuk Tim 9. Selain petugas Satpol PP, Bagian Hukum, Inspektorat, BLH, dan PUPR, Pemkab mengajak tokoh masyarakat, anggota Kodim dan Polisi, untuk menyelidiki temuan kasus kelalaian pembuatan sumur resapan itu,” harap Saudi, agar Pemkab menindak tegas, supaya ada efek jera, bagi semua Perusahaan yang ada di Kabupaten Probolinggo.

Lebih jauh dikatakan Saudi, sesuai Perbup (Peraturan Bupati) No 54 tahun 2015, tentang Pengelolagan Sumber Daya Air, sudah jelas Perusahaan apapun harus menjamin kelestarian lingkungan, termasuk membuat sumur resapan, bagi Perusahaan meneral water seperti Alamo.

Bahkan dalam UU RI No 17 Tahun 2019, tentang Sumber Daya Air, pada Bab IV Ketentuan Pidana Pasal 71, tentang Kelalaian bahwa suatu usaha melakukan kegiatan mengenai pengelolaan sumber daya air, yang mengakibatkan terjadinya daya rusak dilingkungan, sebagaimana dimaksud pada pasal 36, bisa dipidana paling singkat 6 bulan dan paling lama 18 bulan penjara, dengan denda Rp 1 Milyard hingga Rp 3 Miliyard.

Begitu juga, bahwa bila suatu usaha sumber daya air, terbukti dengan sengaja, dan menimbulkan kerusakan pada sumber air dilingkungan sekitarnya, sebagaimana dimaksud pasal pasal 42, dikenakan pidana paling lambat 18 bulan, hingga paling lama 6 tahun penjara, dengan denda Rp 2,5 M hingga Rp 10 Miliyard.

“Bila nantinya, Tim 9 menemukan cukup bukti, soal kelalaian ataupun di sengaja, ya saya berharap harus diproses sesuai dengan hukum yang belaku.” tegasnya.

Seperti diberitakan, PT. Bromo Tirta Lestari, yang dikenal meneral water ALAMO, berkantor dipinggir jalan raya Desa Banjarsari, Kec. Sumberasih, Probolinggo, dibangun tahun 1997, telah lulus sertifikasi ISO 22000, HACCP, SNI, dan Halal.

Sejak perusahaan air minum berdiri, mulai terus tumbuh menjadi salah satu industri menufaktur minuman terkemuka, melayani pasar domestik dan internasional.

Syamsul Arifin al H Fathoni, anggota DPRD Kab Probolinggo Fraksi Gerindra dan Para Anggota Dewan Komisi III./Indonesiapost.co

Bahkan menurut data di Dinas Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Probolinggo, bahwa perusahaan memproduksi air minum meneral water Alamo itu, setiap harinya menyerap air dalam tanah mencapai 166.600 liter/perhari.

Bayangkan saja, bila tiap hari, air dalam tanah disedot mencapai 5.000 M kubik, per bulannya, dan kalau alam ini bukan buatan Tuhan yang maha kuasa, mungkin Desa Banjarsari, sudah ambles.

Padahal, pabrik susu PT Nestlé, Kabupaten Pasuruan, yang tiap hari membeli produk hewan (susu) ke KUD Argopuro Krucil, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, pihak PT Nestlé, sudah membuat 100 sumur resapan air.

“Perusahaan Nestlé Pasuruan, hanya membeli produk susu di KUD Krucil, sudah membuat 100 sumur resapan. Lalu apa ruginya, Alamo, untuk membuat sumur resapan disekitar pabriknya”.

“Jangan hanya mencari keuntungan saja, tapi pikirkan dampak disekitarnya. Jangan sampai ada sumur milik rakyat kehabisan air, karena disedot pabrik Alamo itu. Ini harus benar-benar dipikirkan.”kesal H Fathoni, anggota Dewan fraksi Partai Gerindra ini.(ton/ind)