Lagi, Lagi.! Korban Kebakaran Meninggal Dunia. Pemilik Gudang Tak Ada Rasa Iba Pada Keluarga Korban. “Acuh tak Acuh”

PROBOLINGGO,Indonesiapost.co – Pasca terbakarnya gudang penimbunan BBM ilegal, milik, Ny Mala Ladiyo, warga Dusun Kertah, Desa Sebaung, Kecamatan Gending, terjadi hari Kamis (19/3/2020) lalu, yang saat itu, mengakibatkan 50 orang mengalami luka bakar dan 3 orang meninggal dunia, masing-masing, Alimuddin (35), warga Desa Liprak wetan, Kec Banyuanyar, Ladiyo (60), dan Syaiful Rosi (46), keduanya, warga dusun Kertah, Desa Sebaung, Kecamatan Gending.

Ternyata, hari ini Jumat (27/3/2020) sekitar 13.30 wib, korban yang meninggal dunia bertambah lagi satu orang, yakni, Busin (38) warga Dusun Kertah, Desa Sebaung. Sedangkan korban, Busin, meninggal dunia dalam perawatan dirumah sakit Syaiful Anwar, Kota Malang.

HM Saudi Hasyim Jahur, Ketua LSM Permasa (Perkumpulan Masyarakat Bersatu) Probolinggo, dan jenasah korban, Busin, saat dikebumikan dikuburan umum./indonesiapost.co

Selanjutnya, jenasah korban, Busin, dipulangkan kerumah duka sekitar pukul 17.30 wib nyampek dirumah korban, dan pukul 20.00 wib jenasah almarhum Busin dikebumikan dikuburan umum.

Hingga kini, jumlah korban meninggal dunia menjadi 4 orang, dan 50 korban luka bakar, akibat ledakan dan kobaran api dari gudang penimbunan BBM ilegal tersebut.

Peristiwa yang menggemparkan hingga membawa korban jiwa, 4 orang meninggal dunia dan 50 korban mengalami luka bakar, keluarga para korban mengaku kecewa berat, karena tak ada pemilik gudang penyimpanan BBM ilegal yang terbakar itu, melayat atau takziyah kerumah duka.

Padahal, rumah korban yang meninggal dunia itu, berdekatan dengan pemilik gudang yang terbakar tersebut.

“Sampai saat ini, tak ada ibu Mala, pemilik gudang yang terbakar itu, takziyah kerumah duka. Seharusnya, ibu Mala melayat sebagai umat Islam,” ujar Holili, Wahab, korban luka bakar, yang sangat kecewa pada pemilik gudang penimbun BBM ilegal tersebut.

Bahkan tingkah laku pemilik gudang, Ny Mala Ladiyo, terkesan acuh tak acuh dan sombong, dan sempat ngomong ke beberapa tetangga yang lain, bahwa Ny Mala, menyalahkan para korban mendatangi lokasi kebakaran.

“Saya tidak mau disalahkan. Karena mereka (korban) itu, bukan saya yang nyuruh datang kelokasi kebakaran. Jadi mereka salah sendiri,” kata salah satu korban, Holili, menirukan ucapan istri pemilik BBM ilegal, Ny Mala Ladiyo, yang masih tetangganya.

Padahal, kata Holili, para korban datang ke TKP berusaha untuk membantu memadamkan kobaran api tersebut. Namun oleh pemilik gudang menanggapi salah, sehingga para korban mengancam, akan terus menuntut secara pidana ke Polres, dan menggugat secara perdata ke Pengadilan Negeri di Kraksaan.

Menurut, HM Saudi Hasyim Jahur, Ketua LSM Permasa (Perkumpulan Masyarakat Bersatu) Probolinggo, mengaku beberapa korban luka bakar mendatangi kekantornya.

Mereka, kata Saudi, meminta perlindungan hukum untuk menuntut pemilik gudang penimbunan BBM ilegal, dan juga penjual ratusan ribu liter bensin premium tanpa ijin, yang dijual ke beberapa pengecer di 3 wilayah, Kecamatan Banyuanyar, Kecamaan Tiris dan Kecamatan Maron.

Dan tidak tanggung-tanggung, dalam tuntutan perdata nanti, setiap korban akan meminta ganti rugi sebesar Rp 50 juta hingga Rp 100 juta per orang. Sehingga dalam gugatan perdata tersebut, para korban meminta ganti rugi miliyaran rupiah.

“Saya wajib memberikan perlindungan hukum bagi para korban luka bakar itu. Masalahnya, para korban yang luka akan terus merasakan perih sakit kulit ditubuhnya. Bahkan mereka sebagian korban, akan cacat seumur hidup. Jadi perlu mereka mendapatkan ganti rugi, karena para korban sudah tidak bisa bekerja lagi, untuk mencari nafkah keluarganya,” tegas H Saudi, mengaku para korban masih bertetangga, dengan pemilik penimbun BBM ilegal, yang dikenal pengusaha kaya hasil berbisnis BBM liar tersebut.

Pj Kades Sebaung, Misnaji Spd, mimpin penguburan jenazah alm, Syaiful Rosi, warga Dusun Kertah, di kuburan umum./indonesiapost.co

Lebih jauh dikatakan, H Saudi, bahwa sudah jelas gudang penimbun BBM ilegal terbakar dan mengakibatkan 3 orang meninggal dunia dan 50 orang luka bakar hingga cacat seumur hidup, maka pemiliknya bisa dikenakan pasal 359 HUHP yakni Kelalaian dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara, dan pelanggaran hukum sesuai UU No. 21 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Pasal 55 UU Migas, bahwa orang yang menjual bensin secara ilegal dan penimbunan BBM ilegal bisa dikenai hukuman kurungan selama 6 penjara dan berupa denda sebesar Rp 6 miliar.

“Secara perbuatan hukum pidana, pemiliknya harus dihukum. Secara hukum perdata, pemilik yang melanggar hukum harus memberikan ganti rugi uang,” jelas H Saudi, mengaku beberapa korban luka bakar sudah memberikan surat kuasa, dan berjanji dalam waktu dekat ia akan mengirim surat ke Kapolres Probolinggo, dengan tembusan Kapolda Jatim, Kejaksaan Negeri, dan Pengadilan Negeri Kraksaan.

“Alhamdulillah, ada beberapa advokat siap membantu para korban luka bakar untuk menggugat ganti rugi ke Pengadilan dengan tanpa syarat,” pungkas H Saudi, mengaku beberapa advokat itu rela dan ikhlas membantu para korban secara gratis.(aud/ind).