Kuda Pacu “Dakkar” Milik Kades Maron Kulon, Meraih Juara Jatim

PROBOLINGGO,indonesiapost.co- Siapa yang tidak senang dan bangga memelihara kuda pacu, pastilah banyak orang khususnya kalangan atas yang punya hobby memelihara kuda pacu.

Kuda pacu adalah kuda yang dikembangkan khusus untuk pacuan kuda diberbagai lomba, baik ditingkat Kabupaten, tingkat Provinsi, hingga di tingkat Nasional.

Seperti kuda pacu “Dakar” milik Hasan Basri, Kepala Desa Maron kulon, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, selama dua tahun ini kuda pacu “Dakkar” miliknya, berhasil meraih juara I di berbagai kota se Jawa Timur, seperti lomba pacuan kuda di Kota Jember, Lumajang, Banyuwangi, Probolinggo, Pasuruan dan Kota Kediri, Jawa Timur.

“Kuda itu, saya kasih nama “Dakkar”, karena selain larinya kencang sekali dan kuat walau tanding dengan jarak jauh,” terang Hasan Basri, Selasa (23/4/19) dirumahnya, mengaku senang memelihara kuda pacu sebagai hoby setelah terpilih menjadi Kepala Desa tahun 2015 lalu.

Jenis kuda “Dakkar” disebut sebagai kuda Sandalwood Poni, merupakan blasteran hasil persilangan pejantan kuda ras Arab dengan kuda lokal dari Sumbawa, NTB.

Kades Maron Kulon, Hasan Basri, memberikan kesempatan pada teman akrabnya, H Saudi Hasyim Jahur, Pemimpin Redaksi Indonesiapost.co untuk menunggang kuda pacu Dakkar yang sempat berhasil meraih juara I pada lomba pacuan kuda di Kota Jember, Lumajang, Banyuwangi, Probolinggo, Pasuruan dan Kota Kediri, Jawa Timur./indonesiapost.co

Selain memiliki kecepatan lari yang luar biasa dibanding bangsa kuda lainnya. Kecepatan kuda pacu “Dakkar” bisa larinya mencapai 80 km per jam.
Oleh karena itu kuda pacu Dakkar bisa terbilang memiliki harga yang mahal.

“Saya belinya kuda Dakkar itu hanya dibawah harga Rp 100 juta. Dan kuda lokal, memang harganya berbeda ketimbang kuda pacu dari luar negeri yang harganya miliyaran rupiah,”tutur Hasan Basri, didampingi istrinya, Yuliatiningsih, mengaku setiap tanding keluar kota Probolinggo selalu didukung istrinya.

Hasan Basri, tak hanya senang memelihara kuda pacu saja, namun dibalik kesibukan sebagai Kepala Desa, ia juga mempunyai usaha selep padi atau penggilingan gabah, berternak ratusan ayam jago dan bebek daging.

Alasannya, mempunyai kerja sampingan itu, selain menafkahi pada istri dan membiayai kedua anaknya yang sekolah. Dan juga, menghilangkan isu fitnah, kalau Kepala Desa identik korupsi dana Desa, sehingga Hasan Basri, memberikan kepercayaan pada rakyatnya bahwa menjabat sebagai Kades tidak pernah ngutik-ngutik dana Desa tersebut.

“Semua kerjaan sampingan ini, dikelolah istri saya. Sehingga saya tidak usah ngasih biaya untuk keluarga, karena uang hasil kerja sampingan itu langsung masuk kantong nyonya,”jelas Hasan Basri, diakui istrinya, Yuliatiningsih, dengan wajah gembira.(ugi/ind)