Kopi Bubuk “De Bromo Coffee” Produk Probolinggo, Bakal Tembus Eksport ke Negeri Jiran Malaysia.

PROBOLINGGO,Indonesiapost.co – Industri Kecil Menengah (IKM) yang mampu memproduksi bubuk kopi “De Bromo Coffee”, adalah hasil karya Kasatkorcab Banser Kabupaten Probolinggo, Adimas Lutfi Putra Jaya, warga Desa Bulujaran lor, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, kini berhasil sukses bisa menembus pasar ke berbagai Kota di Jawa Timur, Jakarta, dan eksport keluar Negeri jiran Malaysia.

Produk kopi bubuk alami ini, suatu produksi kopi bubuk secara tradisional. Sedangkan biji kopi ini, dibeli dari petani yang bercocok tanam kopi Arabica, kopi Liberika dan kopi Robusta, yang ditanam disekitaran kaki gunung Argopuro, di Desa Tiris dan Desa Krucil, serta di kaki Gunung Bromo yang dikenal sebagai destinasi wisata bertaraf internasional itu.

“Untuk sementara, penjualan bubuk kopi ini, hanya kisaran Kota Probolinggo, Kota Kraksaan hingga Kota Lumajang,” tutur Adimas Lutfi Putra Jaya, Minggu (23/2/2020) mengaku membuka usaha produk bubuk kopi, hanya buat kerja sampingan dan juga bermaksud menampung pengangguran khususnya anggota Banser yang belum mempunyai pekerjaan tetap.

Ketua Satkorcab Banser Kabupaten Probolinggo, Adimas Lutfi Putra Jaya, pakai kaos putih lagi bungkus kooi bubuk “De Bromo Coffee”./Indonesiapost.co

A Dimas, sapaan akrabnya, membuka usaha jual kopi bubuk ini, semula mempunyai anak buah anggota Banser, Hendrik, yang mempunyai keahlian dibidang racikan kopi, baik kopi eksport maupun kopi lokal.

Setelah dua tahun lalu, Hendrik, mengabdi di Banser, mengaku tidak punya pekerjaan tetap sehingga untuk memenuhi nafkah keluarganya, Hendrik, kerja serabutan.

Pada awal bulan 2020 ini, Hendrik, mengeluh pada komandannya, Adimas Lutfi Putra Jaya, Ketua Satkorcab Banser Kabupaten Probolinggo, bahwa Hendrik meminta diberi modal untuk usaha jualan bubuk kopi asli lokal. Bahkan secara profesional, Hendrik, cukup lama bekerja disuatu perusahaan kopi bubuk, sehingga ia mempunyai keahlian membuat kopi bubuk.

“Semula, saya ngasih modal 1 kwintal biji kopi Arabica pada Hendrik. Kemudian kopi itu dikelolah dengan marketing yang bagus. Alhamdulilah, kini hasil karyanya menjadi berkembang hingga ke berbagai kota,” jelas A Dimas, mengaku, ke depan akan memperdayakan para santri di pondok pesantren, untuk memborong kerja sampingan ini, dan para santri agar bisa mandiri setelah terjun ke masyarakat.

Lebih jauh dijelaskan, A Dimas, cara untuk membuat bubuk kopi yang asli, alami dan tradisional, ada beberapa cara yang harus dilakukan.

Pertama, anak buahnya, Hendrik, mendatangi para warga yang bertani tanaman kopi, di sekitar kaki gunung Argopuro dn Gunung Bromo, untuk dibeli kopinya.

Kemudian, biji kopi yang sudah dibelinya itu, lalu dikeringkan hingga dengan kadar 100 %, dan siap digiling atau di Sangrei.

Biji kopi usai di sang-ngar atau di sangrei, lalu didinginkan beberapa jam, dan selanjutnya biji kopi itu di tumbuk hingga menjadi bubuk kopi yang alami.

Selanjutnya, bubuk kopi dimasukan dalam bungkus dengan warna yang menarik dan cantik, untuk siap dijual.

“Harga jual dalam 1 bungkus berisi 1 ons bubuk kopi, harganya cukup murah berkisar Rp 15 ribu/per bungkus,” jelas A Dimas, mengaku kopi bubuk yang diberi nama “de Bromo Coffee” bakal beredar di jakarta dan ke Negeri Jiran Malaysia.

“Bisanya kopi bubuk ini, beredar dan terjual ke ibukota Jakarta, karena ada teman yang sanggup menjualkan di rumahnya di Jakarta. Begitu juga, kopi bubuk De Bromo Coffee akan terjual ke Malaysia itu, karena ada teman TKI, juga sanggup menjualkan di Kota Kuala Lumpur,”terang A Dimas, berjanji hasil keuntungannya, akan dibagikan 10% untuk kaum dhuafa.(saudi/ind).