Kisah Pilu: 25 Tahun Bersama Suami Hingga Punya 3 Anak. Tiba-Tiba Suami Kecantol Janda Muda, Lalu Istri Tua Dicerai. “Aduh Kasihan”.

PROBOLINGGO,Indonesiapst.co – Sehari setelah mendengar suami nikah lagi, istri tua, Arwati (40), Dusun Karangtengah, Desa Pandanlaras, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, mengaku pasrah namun hatinya tetap SAKIT, karena Arwati, hidup berumah tangga bersama suaminya, Misnaji Spd, Pj Kades Sebaung, Kecamatan Gending, sudah berjalan 25 tahun hingga dikaruniai 3 orang anak, masing-masing, Nur Asia meninggal dunia masih kecil, Hasbi Maulana di SMP dan Laila (2,5) tahun.

Secara tiba-tiba sang suami, Misnaji, menikah lagi dengan janda muda, Hepi ASR, warga Desa Sebaung, Kecamatan Gending, pada hari Sabtu (4/7/2020) kemarin, dan istri tua, Arwati, langsung di cerai atau di talak tanpa ada kesalahan yang fatal.

Kecantolnya, Misnaji, hingga menikah lagi dengan istri yang ketiga sang janda muda itu, setelah Misnaji, menjabat Pj Kepala Desa Sebaung sejak bulan Maret 2019.

Istri pertama, Nurhidayati, sudah 6 bulan lalu meninggal dunia, dan yang menggedong anak, Arwati, istri kedua. Kini Pj Kades Sebaung, Misnaji Spd, bersanding dengan istri yang ketiga, Hepi ASR, bersama sanak keluarganya./Indonesiapost.co

“Saya pasrah walau dalam hati Sakit dicerai tanpa ada salah. Yang jadi pikiran saya, bagaimana kedua anak saya kedepan, kalau sudah sekolah semua, lalu siapa yang menafkahi dan yang akan membiayai sekolahnya nanti. Padahal kami hidup sendiri hanya ikut orang tua yang hidupnya pas-pasan,” tutur Arwati, memelas saat ditemui Wartawan hari Minggu (5/7/2020) dirumahnya.

Diakui Arwati, sekalipun ia menjadi istri kedua dengan nikah siri, tapi selama 25 tahun hubungan dalam rumah tangganya rukun-rukun saja, namun setelah menjabat Kepala Desa Sebaung, Misnaji, sudah mulai jarang pulang kerumahnya. Dan tiba-tiba, Arwati, mendengar kalau suaminya akan nikah lagi.

“Kami memang nikah siri, sebagai istri ke dua, tapi selama 25 tahun kami rukun saja dengan mbak Nurhidayati, istri pertamanya, mas Misnaji,” tutur Arwati, sambil menggendong anaknya, Laila, dan mengaku setiap hari Laila selalu ingat dan memanggil ayahnya, Misnaji.

Semasa hidupnya menjadi istri ke dua, Arwati, juga rukun dengan istri yang pertama, Nur Hidayati, dan saat itu hidup dirumah kontrakkan di Desa Maron kidul, sehingga sang suami, Misnaji, bisa membagi waktu kalau bermalam dirumah kontrakannya. Dalam seminggu sekali, Misnaji, bertandang kerumah kontrakan yang ditempati, Arwati, itu.

“Kami sudah dua tahun lalu, pulang kampung ke rumah di Desa Pandanlaras, dan rumah ini milik adik kandung, Hasan dan istrinya Hani, yang sudah meninggal dunia, karena kecelakaan. Karena rumah ini tidak dihuni, lalu kami yang tempati. Jadi kami menjadi istri Misnaji selama 25 tahun, tak bisa beli apa-apa dan hanya cukup dimakan,” akunya.

Menurut Arwati, kini dalam hidupnya hanya berkumpul dengan orang tua yang hidupnya pas-pasan. Dan yang menjadi pemikiran dalam hatinya, hanyalah masa depan kedua anaknya.

“Semoga Allah Swt, memberikan pentunjuk bagi Misnaji, agar ingat anaknya untuk memberi nafkah hingga sekolah sampai ke perguruan tinggi. Kalau tidak ada yang menafkahi, maka kedua anak ini bisa-bisa tidak sekolah,” jelas Arwati, berharap Misnaji, selalu ingat pada kedua anaknya.

Seperti diberitakan, mantan Kades Sebaung, Totok Hariyadi, meninggal dunia lalu, dan pada bulan Maret 2019, Misnaji Spd, warga Desa Sebaung, staf Kecamatan Maron. Diusulkan Camat Gending, H Abduh, bahwa Misnaji diangkat sebagai Pj Kepala Desa Sebaung.

Disaat Misnaji menjabat Kades Sebaung itu, ia mulai kenal dengan janda muda, Hepi, yang kebetulan bekerja sebagai Pendamping Desa, dan kini ada puluhan Pendamping Desa mulai diproses hukum oleh Kejaksaan Kraksaan, karena diduga merangkap jabatan sesuai dengan fakta audit BPK (Badan Pemeriksaan Keuangan).

Dalam pernikahan tersebut, banyak para tetangga heran karena Misnaji, sudah poligami mempunyai dua orang istri. Namun istri yang pertama, Nurhidayati, meninggal dunia enam bulan lalu dengan mempunyai 3 orang anak.

Sebelum istri pertama meninggal dunia, Misnaji, poligami dengan istri ke dua warga Desa Pandanlaras, Kecamatan Krucil (tak mau disebut namanya, red), juga dikaruniai 3 orang anak, sehingga berjumlah 6 anak.

Sedangkan istri yang ketiga ini, Hepi ASR, seorang janda mempunyai dua anak hasil hubungan suami pertama, Rahman, namun ia cerai, karena Rahman, diduga melakukan penipuan hingga kini masih di proses di Polres Probolinggo.

“Saya bangga, pak Misnaji, menikah lagi dengan janda, Hepi, asalkan tidak menceraikan istrinya yang kedua itu, karena ia sudah dikaruniai 3 orang anak. Kasihan mereka,” ujar beberapa warga Desa Sebaung, dengan bisik-bisik tetangga.

“Jangan ada kesan, menceraikan istri yang no dua itu, cuma karena mau nikah dengan janda muda,” katanya.

Menurut Kesra Sebaung, Cung Hasyim, membenarkan istri yang nomer dua itu di cerai, karena diajak hidup bersama pulang ke Desa Sebaung, mereka menolak.

“Cerainya itu, baru saja seminggu lalu, saat sebelum menikah dengan ibu Hepi,” pungkas Cung Hasyim, mengakui Kepala KUA Gending, H Mahmud, menikahkan kedua mempelai tersebut.(ind/bersambung)