Iran Lawan Amerika. Keluarga Saudi Diam-diam Terbang ke Eropa. Ada apa ya?

JAKARTA,Indonesiapost.co – Ribuan warga Iran berkumpul saat mengikuti upacara pemakaman, Mayor Jenderal Qassem Soleimani, yang tewas akibat serangan udara tentara Amerika di Bagdad, 5 Januari 2020.

Menjadikan warga Iran marah besar, mengibarkan bendera merah dikibarkan di Masjid Jamkaran di Qom, Iran, sebagai simbol balas dendam terhadap Qassem Soleimani yang terbunuh kena serangan tentara udara Amerika.

Peristiwa yang menghebohkan dunia ini, menjadi keprihatinan dan peduli bagi Presiden RI, H Jokowi, dan memerintahkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Retno LP Marsudi, bertemu dengan Duta Besar Amerika Serikat dan Iran.

Presiden RI, H Jokowi dan Istri, disambut Raja Salman, di Istana kerajaan Arab Saudi, di Riyadh pada tahun 2018 lalu./indonesiapost.co

Pertemuan itu dilakukan pada Senin (6/1/2020)) digelar secara terpisah.

Menurut Menlu, Retno, sapaan akrabnya, mengatakan, pertemuan digelar untuk menyampaikan sikap Indonesia terkait hubungan Iran dan AS usai pembunuhan Mayor Jenderal Qasem Soleimani.

Retno, meminta AS dan Iran menahan diri. Dia menyebut eskalasi dalam hubungan antara Iran dan AS tidak akan bermanfaat bagi siapapun, malahan bakal memberi dampak pada ekonomi dunia.

Selain itu, Kemlu membuat himbauan kepada WNI di Irak, mengingat pembunuhan terhadap Soleimani terjadi di Irak. Kemlu meminta WNI selalu waspada dan segera menghubungi KBRI jika membutuhkan bantuan.

“Kami mengimbau WNI di Irak untuk selalu meningkatkan kewaspadaan. Segera hubungi KBRI jika memerlukan informasi/bantuan. Hotline KBRI Baghdad +9647500365228,” jelasnya.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Retno LP Marsudi, bertemu dengan Duta Besar Amerika Serikat dan Iran,do dua tempat di Jakarta./hm saudi hasyim jahur

Seperti dilansir beberapa media baik TV, media cetak dan online, menerangkan, peristiwa pembunuhan Mayor Jenderal Qasem Soleimani, dipastikan Iran marah besar akan balas dendam sesuai sumpah palapa bagi rakyat Iran.

Sedangkan, Iran juga berselisih dengan Kerajaan Arab Saudi, terkait dengan pengemboman kapan tangker minyak yang terjadi beberapa tahun lalu.

Untuk mengatasi dan tidak melibatkan diri dalam perang saraf antar Iran dan Amerika, menjadikan keluarga kerajaan Arab Saudi, diam-diam meninggalkan Riyadh, Jeddah, dan Mekah, terbang ke negara-negara Eropa.

Ada apa ya? Ditengarai karena khawatir serangan balasan Iran atas kematian jenderal Quassem Soleimani, bakal terjadi merembet ke Arab Saudi .

Kepergian anggota keluarga beberapa pangeran dari Kerajaan Arab Saudi itu, dilaporkan Yemeni Press pada hari Selasa, 7 Januari 2020, dan dilaporkan kembali oleh Fars News Agency.

Kedutaan Amerika Serikat baru saja, memperingatkan Riyadh tentang serangan balas dendam Iran terhadap beberapa instalasi minyak Saudi.

Bahkan hari Rabu pagi (8/1/2020) Jet militer Amerika terlihat terbang di udara ibu kota Irak, Baghdad, atau beberapa jam setelah berisi pasukan Amerika Serikat.

Rumah mewah milik putra mahkota Arab Saudi, Raja Muhammed bin Salman, seharga Rp 4 Triliun, di Perancis.
Foto alm jenderal Quassem Soleimani dan pesawat tempur AS di wilayah Iraq./indonesiapost.co

Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon mengakui, Iran telah menembakkan puluhan rudal terhadap Ain al-Asad dan instalasi lain yang menampung pasukan AS dan koalisi di dekat Arbil.

Menurut Pentagon, para tentara di pangkalan telah siaga tinggi selama berhari-hari untuk menghadapi serangan.

Serangan terhadap basis AS ini telah diperkirakan sebelumnya. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menduga Iran akan menyerang pasukan mereka di Timur Tengah sebagai balasan atas kematian Qasem Soleimani.
“Kami pikir ada kemungkinan nyata Iran akan melakukan kesalahan dan membuat keputusan untuk menyerang pasukan kami, di Irak atau tentara di timur laut Suriah,” kata Pompeo kepada Fox News, siap menghadapi serangan Iran, dalam sambutan yang disiarkan Minggu (5/1).(ind/**)