HM Saud: “Tugas Wartawan Makan Buah Simalakama.”

Indonesiapost.co – Ada pribahasa dengan sebutan, “Makan Buah Simalakama, artinya maju kena, mundur kena”.
Itulah mungkin pribahasa yang cocok bagi tugas Wartawan. Kenapa ?

Semua orang tahu, tugas Wartawan sangatlah mulia. Namun dari sisi lain, masih ada sebagian masyarakat memandang sebelah mata dan Wartawan masih dinilai negatif.
Padahal, kita semua tahu tugas Wartawan dibutuhkan banyak orang, sehingga ada sebutan Wartawan dibenci tapi dirindu banyak orang.

Tidak mustahil bila masih ada sebagian masyarakat menilainya tugas Wartawan secara negative, karena memang ada sebagian oknum Wartawan tugasnya mencari keuntungan pribadi, dan bukan kepentingan umum/orang banyak. Bahkan ada sebagian oknum terkesan arogan dan pemerasan. Itulah sebagian orang menilai nigatif bagi tugas Wartawan.

Pemred indonesiapost.co, HM Saudi Hasyim Jahur, bersama Drs H Hasan Aminuddin Msi, anggota DPR RI Komisi VIII, dan bersama Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, Ketua GPAN (Gerakan Peduli Anti Narkoba) serta mantan anggota DPR RI, Ajie Masaid, saat wawancara dimasa hidupnya Ajie Masaid, tahun 2009 lalu./indonesiapost.co

Pada masa Reformasi ini, kebebasan Pers memang tidak bisa dipungkiri lagi. Semua peristiwa yang ada tidak luput dari pemberitaan. Sehingga dalam pemberitaan tersebut, pasti ada orang yang pro dan kontra. Bahkan ada penilaian dari sebagian orang, bahwa wartawan pembawa fitnah, arogan, sok suci. Padahal, si wartawan tersebut sudah menjalankan tugasnya secara profesional, jujur dan independen.

Semua kita harus sadar, tugas apapun pasti ada rintangannya. Walau kita dinilai negatif, kita harus tetap yakin bahwa tugas wartawan tugas yang mulia. Biarlah, Tuhan yang maha Mengetahui yang menilainya dan membalas kebaikan kita sebagai tugas Wartawan.

Ada cerita Wartawan berbuat baik, dinilai negatif.
Ceritranya begini.
Ada dua orang warga miskin, si Ahmad dan si Bogel, yang hidupnya tiap hari berada di kolong jembatan. Sedangkan si Ahmad, rajin dan taat menjalankan ibadahnya. Sedangkan temannya, Bogel, biasa biasa saja.

Disaat Ahmad usai sholat dhuhur, tiba-tiba si Bogel nyelentuk. “Mad, kamu tiap hari selalu berdoa memohon pada Tuhanmu. Sekali-kali kamu ngirim surat pada Tuhan, meminta uang pada Tuhanmu,” kata si Bogel pada Ahmad. Kemudian Ahmad yang terbilang lugu itu, lalu membuat surat kepada Tuhan.

Didalam isi suratnya, Ahmad meminta uang. “Tuhan, engkaulah maha pengasih dan maha penyayang. Tolong kami minta uang, tidak banyak hanya sebesar Rp. 1 juta saja.” tulis dalam surat itu.

Pemred indonesiapost.co, HM Saudi Hasyim Jahur, bersama Agus Suyanto SH, Kasi Intel Kejaksaan Kraksaan, dan Riyanto SH, Kasat Reskrim Polres Probolinggo serta Ajie Masaid, semasa hidupnya tahun 2019 lalu./indonesiapost.co

Kemudin surat tersebut dikirim kekantor Pos. Sesampai dikantor pos, petugas kantor pos bingung mendapatkan surat yang ditujukan pada Tuhan. “Mana ada alamat Tuhan di dunia ini,” pikir petugas kantor tersebut.

Pemred indonesiapost.co, HM Saudi Hasyim Jahur, bersama Agus Suyanto SH, Kasi Intel Kejaksaan Kraksaan, dan Riyanto SH, Kasat Reskrim Polres Probolinggo serta Ajie Masaid, semasa hidupnya tahun 2019 lalu./indonesiapost.co

Tak lama kemudian, terbenaklah pikiran petugas kantor pos tersebut. “Biasanya tugas Wartawan menyiarkan atau menulis seseorang yang kebingungan. Kalau begitu surat ini, saya kirim ke salah satu Wartawan,” pikir petugas kantor Pos sambil menyerahkan surat tersebut pada Wartawan.

Selesai petugas Pos menyampaikan surat itu, si Wartawan juga bingung. Namun tiba-tiba ia penasaran untuk mengetahui alamat si Ahmad, warga miskin itu. “Apakah benar, si Ahmad itu berada dibawah kolong jembatan,” pikirnya si wartawan.

Pagi harinya, si wartawan mencari Ahmad, yang beralamat di bawah kolong jembatan itu. Akhirnya si Wartawan berhasil menemui si Ahmad.

“Betulkah, saudara mengirim surat pada Tuhan, dan meminta uang rp 1 Juta? kata si Wartawan pada Ahmad. “Benar pak, saya minta uang pada Tuhan Rp 1 juta saja,” jawab Ahmad.

Karena tidak mungkin Tuhan akan ngasih uang, lalu si Wartawan merasa iba dan langsung memberi uang Rp 500 ribu. “Kebetulan saya punya uang Rp 500 ribu, maka saya kasihkan pada saudara,” kata Wartawan pada si Ahmad.

Dengan senang hati, si Ahmad, jingkrak-jingkrak gembira. Secara bersamaan, temannya, Bogel, datang menghapiri dan bertanya. “Wah kamu kok jingkrak-jingkrak gembira,” tanya si Bogel.

Dengan spontanitas Ahmad menjawab. “Setelah saya mengirim surat dan meminta uang pada Tuhan, akhirnya saya dikasih uang sama wartawan sebesar Rp 500 ribu, “kata Ahmad pada si Bogel.

Dengan suara agak mengejek, Bogel, nyelentuk. “Itulah tugas Wartawan, tukang ngemplang. Buktinya, kamu minta uang Rp 1 juta, masih tega di kemplang rp 500 ribunya,” kata Bogel, iri melihat uang itu.

Disinilah sekelumit ceritra, bahwa ada Wartawan sudah berbuat baik memberi uang bantuan uang ke warga miskin, ternyata masih dinilai negatif oleh sebagian orang.

Mudah-mudahan, dengan ceritra ini, kita semua bisa mengoreksi diri bahwa janganlah melihat sebelah mata bagi kehidupan tugas Wartawan. Karena Wartawan bukan Malaikat, tapi Wartawan juga sama manusia biasa, yang tidak luput dari khilaf dan salah.

Oleh karenanya, bila ada kesalahpahaman baik dengan Pemerintah ataupun dengan masyarakat, perlu dilakukan tabayyun. Hidup wartawan.!!!!!
(Pimred indonesiapost.co, Hm Saudi Hasyim Jahur)