H Saud: “Kecintaan Seorang Budak Terhadap Tuhan, Tanpa Bandingannya, Ini Perlu Ditiru”

Sebuah kisah nyata tentang kecintaan seorang budak kepada Tuhan, Allah SWT, walaupun ia harus bekerja kepada tuan majikannya.

Ketika itu, pada jaman perbudakan ada seorang majikan telah membeli budak dari tuan majikan yang pertama.

Sang budak itu mengajukan syarat kepada tuan majikan barunya. Dan Ia sangat berharap, syarat ini bisa dipenuhi oleh sang majikan.

“Tuan, saya memiliki tiga syarat untuk kau penuhi selama aku menjadi budakmu,” ucap si budak.
“Iya, tidak apa-apa. Sebutkan saja tiga syarat yang kau mau dariku,” jawab sang tuan majikan.

“Tuan, ketiga syarat tersebut yaitu, Pertama tuan tidak boleh melarang saya sholat lima waktu di awal waktu dg berjamaah. Dan sewaktu sholat, maka saya akan berhenti sejenak dari pekerjaan yang tuan berikan untuk beribadah kpd Tuhan saya.

Kedua, tuan boleh memerintah apa saja pada waktu siang hari dan membiarkan saya tanpa aktivitas pada malam hari. Saya siap disuruh-suruh saat siang hari dan saya tidak mau diperintah pada malam harinya.

Ketiga, sediakan aku kamar khusus dan tidak boleh ada yang masuk ke kamar tersebut kecuali saya seorang,” jelas si budak.

KH Hasan Aminuddin, Mustasyar PCNU Kota/Kab Probolinggo, mantan Bupati Prob dua periode dan juga anggota DPR RI Komisi VIII, bersama, HM Saudi Hasyim Jahur, Ketua Lsm Permasa (Perkumpulan Masyarakat Bersatu) Kabupaten Probolinggo, disaat acara pengajian umum “Cangkruan Nyareh Tretan” di Desa Sebaung, Kecamatan Gending, Kab Probolinggo pada tahun 2009 lalu./indonesiapost.co

Namanya majikan penyabar, permintaan sang budak dituruti. “Baiklah, aku terima syarat-syaratmu tersebut,” jawab sang tuan.

Maka terjadilah kesepakatan antara mereka berdua. Diajaklah budak itu ke rumahnya. Ia dipersilahkan untuk memilih sendiri kamar yang disukai. Setelah berputar mengelilingi rumah sang majikan, akhirnya ia memilih sebuah bangunan yang sudah roboh. Majikan itu heran atas prilaku budak barunya.

“Mengapa kamu memilih bangunan runtuh itu sebagai kamarmu? Bukankah ada kamar lain yang lebih layak?” Tanya sang majikan.
“Maaf Tuanku, bukankah bangunan roboh jika bersama Tuhan akan nampak seperti taman,” jawab budak itu.

Benar sebagaimana syarat yang diajukan, budak itu menggunakan siang hari untuk bekerja pada tuannya, sedangkan malamnya ia jadikan untuk beribadah pada Tuhannya. Ia habiskan siang untuk kerja dan malam untuk ibadah.

Suatu ketika, sang majikan mengelilingi rumahnya. Tanpa sengaja ia lewat di depan kamar budaknya. Betapa terkejutnya pemilik rumah tersebut, ia melihat bangunan roboh itu bercahaya laksana pelita. Ia melihat budaknya sedang sujud dan di atas kepalanya ada pelita yang menyinarinya. Sang majikan terus mengawasi budaknya tersebut. Ia melihat betapa nikmat dan khusyuk budaknya dalam beribadah dan bermunajat pada Allah SWT.
Bahkan semalam suntuk budaknya terus hanyut dalam munajatnya. Ia juga mendengar lirih munajat dari budaknya.
“Ya Allah Tuhanku, engkau mewajibkan padaku untukmengabdi dan bekerja pada tuanku di siang hari. Andaikata hamba tidak direpotkan dengan hal tersebut, pasti aku akan jadikan siang-malamku sebagai pengabdian pada-Mu”.doa sang budak tersebut.

Saking kagumnya, majikan itu tidak sadar bahwa waktu sudah masuk waktu pajar. Bersamaan dengan itu, lenyaplah cahaya pelita yang menyinari budaknya. Lalu, ia kembali ke rumahnya dan mengabari istrinya tentang kejadian terasebut.

Pada malam kedua, majikan itu mengajak istrinya untuk mengintip apa yang dilakukan oleh budaknya. Mereka berdua mendatangi kamar pembantu.

Ternyata benar, sebagaimana yang mereka duga, budak itu sedang berdiri, ruku dan sujud dg khusyu yang dipenuhi dengan pelita. Sang majikan berdua tetap berdiri melihat si budak sampai waktu fajar. Mereka berdua menangis melihat semangat, tekun dan kegigihan budaknya dalam beribadah kpd Tuhannya.

Keesokan harinya sang majikan berdua langsung memanggil si budak saleh tersebut, “Nak, sekarang kamu aku merdekakan. Sekarang kamu sudah merdeka. Kamu bukan budakku lagi.
Sungguh, aku memerdekakanmu karena Allah Ta’ala. Aku memerdekanmu agar tidak terganggu lagi enggkau bisa menjadikan siang-malam sebagai sarana ibadah kpd Tuhan.”tutur sang majikan dengan nada lembut.

Mendengar apa yang dikatakan tuannya, budak tersebut langsung mengangkat kedua tangannya. Ia berkata:

يا صاحب السر ان السر قد ضهرا   ولا اريد حياتي بعد ما اشتهرا

“Wahai Pemilik Rahasia, sungguh rahasia itu sudah terbongkar. Sedang aku tidak ingin hidupku setelah ini menjadi terkenal.”

Setelah itu, budak tersebut berdoa agar nyawanya segera dicabut. Ternyata tidak lama setelah ia berdoa, ajal langsung menjemputnya.

Dari cerita tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa:

1. Derajat seseorang bukan dilihat dari status sosialnya yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Terbukti, seorang budak pangkatnya, derajatnya di sisi Tuhannya mengungguli majikannya.

2. Sesibuk apapun dalam urusan duniawi, jangan sampai melalaikan kita pada urusan ukhrawi. Kita harus berlomba-lomba dalam kebaikan terhadap Tuhannya. Sekalipun dg siapa saja.

3. Kecintaan kepada Allah Swt. dapat mendatangkan maunah, karomah atau keistimewaan di sisi-Nya.

4. Hal yang nampak hina di mata manusia, ketika didasari dengan mahabbah (rasa cinta), pasti akan nampak mulia di sisi Allah SWT.

5. Keistiqomahan dalam urusan ibadah tidak perlu di-sharing ke publik. Karena kadang dapat melunturkan keikhlasan dalam mengerjakannya./*****