H Hasan Aminuddin: “Uang Rp.100.000,- Tak Berguna, Uang Seribu (Rp 1000),- Barokah Dunia Akherat

Indonesiapost.co – Ayo kita Iqro’ (baca,red) dan renungkan bersama, tentang kisah uang Rp.100.000,- tak berguna, tapi walau uang hanya Rp 1000,- bisa bermanfaat bagi orang lain atau barokah.

Kita semua tahu, besarannya uang kertas seribu rupiah (Rp 1.000),- dan uang kertas seratus ribu (Rp 100.000),- sama-sama dibuat dari kertas dan diedarkan
oleh Bank Indonesia (BI).

Ketum DPP Nasdem, H Surya Paloh, bersama, H Hasan Aminuddin, saat kampanye akbar di Probolinggo.
Pimred indonesiapost.co, H Saudi Hayim Jahur bersama sang guru politik, H Hasan Aminuddin./indonesiapost.co

Ketika dicetak, mereka pun keluar bersama, tetapi kemudian berpisah di bank dan beredar
di masyarakat.

Setelah beredar kedua uang yang nilainya tidak sama itu, Bagaimanapun, 4 bulan kemudian mereka bertemu kembali.

Secara tidak Sengaja kedua lembar uang itu (uang Rp 1000,- dan uang Rp 100 ribu) bertemu di dalam dompet milik salah seorang pemuda.

Maka mereka atau kedua lembar uang itupun ngobrol:–

  • Uang Rp 100.000,- bertanya
    kepada uang Rp 1.000,- ; “Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan berbau amis,,?” Tanya uang Rp 100 ribu tersebut.

Kemudian Uang seribu Rp 1.000,- menjawab; “Karena begitu aku
keluar dari bank, terus ke tangan
orang bawah dari kalangan buruh, penjaja Kecil, tukang becak, penjual ikan, tukang parkir dan di tangan Pengemis” jawabnya.

Lalu Uang Rp 1.000,- balik bertanya kepada Uang Rp 100.000 ; “Kenapa kau begitu tetap baru, rapi dan masih bersih?” balik tanya uang Rp.1.000,-

Dengan bangganya dan sombong uang Rp 100.000 menjawab ; “Karena begitu aku
keluar dari bank, terus disambut
para perempuan cantik, dan beredarnya pun direstoran mahal, di kompleks perkantoran, di Pasar raya, Mall bergengsi dan juga hotel berbintang, serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet.”jawab uang Rp 100 ribu, dengan gaya congkaknya.

Lalu Uang seribu Rp 1.000,- bertanya lagi ; “Pernahkah engkau berada di tempat ibadah,?” tanya lagi uang Rp 1.000,-

Dengan mengipas-ngipas uangnya Rp 100.000,-menjawab. ”Belum pernah dong. Tempatku ditempat yang wah wah saja.” jawabnya.

Uang Rp 1.000,- pun
berkata lagi ; “Ketahuilah walaupun aku hanya uang seribu (Rp 1.000),- tetapi aku selalu berada di seluruh tempat ibadah, di tangan Anak Yatim Piatu
dan fakir miskin bahkan
aku bersyukur kepada Tuhan semesta alam, aku disenangi untuk dibuat sedekah.”kisahnya.

“Aku tidak dipandang
sebagai sebuah nilai, tetapi sebuah Manfaat bagi orang lain.” jelas uang seribu yakin bakal barokah dunia akherat.

Mendengar penjelasan uang Rp 1000,-, Lalu menangislah
Uang Rp 100.000,- karena merasa ia sombong, merasa besar, merasa hebat, akan tetapi besarnya nilai uang Rp 100 ribu, tidak bermanfaat untuk kebaikan bagi orang lain.

“Ampun ya Tuhanku.. jadikanlah aku ini sebagai uang yang nilainya besar untuk Cinta Sedekah.” tangisnya***

Semoga cerita ini dapat memberi pembelajaran dan
Inspirasi Positif bagi si penulis dan bagi kita semua.

Sesuai anjuran dari sang guru politik, anggota DPR RI dua periode 2014-2024, H Hasan Aminuddin, pengasuh ponpes “HATI” yang santrinya para anak yatim dengan mondok secara gratis menjelaskan, bahwa kita hidup dibiasakan menaruh uang Rp 5 ribuan, Rp 10 ribuan, Rp 20 ribuan, Rp 50 ribuan dan Rp. 100 ribuan didalam dompetnya.

Ketua Lsm Permasa (Perkumpulan Masyarakat Bersatu), H Saudi Hayim Jahur bersama sang guru politik, H Hasan Aminuddin./indonesiapost.co

Sehingga bila ketemu teman ataupun orang kurang mampu, kita bisa dengan ikhlas dan gampang untuk memberi sedekah uang yang ada didalam dompet tersebut.

“Biasanya, kita mikir atau eman mau ngasih uang pada orang yang membutuhkan, apabila didalam dompet terisi uang Rp 100 ribuan”.

“Tapi kalau di dompet terisi uang Rp 50 ribuan, Rp 20 ribuan, dan Rp Rp 10 ribuan, kita biasanya ikhlas memberi sedekah dengan ngasih uang disesuikan dengan orang yang menerimanya.”

“Sehingga kita pasti akan selalu cinta sedekah dan selalu ikhlas memberi bantuan pada orang lain itu,” kata KH Hasan Aminuddin, pada Pimred Indonesiapost.co.
(hm saudi hasyim jahur).