Bupati Hj Tantri: “Budaya Karo Perlu Dijaga dan Dilestarikan Bersama”.

PROBOLINGGO,Indonesiapost.co – Perayaan Yadya Karo adalah salah satu tradisi bagi masyarakat Tengger berupa tarian ritual Sodoran sebagai wujud rasa syukur kepada para leluhur yang diawali dengan dua arak-arakan untuk bertemu selayaknya pasang pengantin pria dan wanita. Dimana, peran mempelai wanita digantikan oleh seorang lelaki.

Hari Raya Karo merupakan hari raya kedua setelah Kasada di bulan kedua dari 12 bulan menurut kalender Suku Tengger tepat diperingati setiap tanggal 15 di bulan Karo. Tahun ini, perayaan Yadnya Karo Tengger dipusatkan di Desa Jetak Kecamatan Sukapura, Senin (16/9/2019).

Ritual Sodoran yang dipusatkan di aula Balai Desa Jetak Kecamatan Sukapura ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE didampingi Gus Haris Damanhuri Ramli selaku Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, anggota Forkopimka Sukapura dan pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Bupati Hj Puput Tantriana Sari SE, dan Gus Haris Damanhuri Ramli, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong saat di acara Karo di Gunung Bromo./indonesiapost.co

Ritual Karo sendiri dimulai dengan cerita pertemuan kedua orang Ratu dalam sebuah tempat yang akan dipakai sebagai tempat berlangsungnya upacara. Kermat, selaku Kepala Desa Jetak berperan menjadi Ratu Jetak (tuan rumah) menyambut Supoyo sebagai Ratu Ngadisari. Dimana Desa Ngadisari yang nantinya akan dilaksanakannya upacara perayaan Yadnya Karo di tahun mendatang.

Ratu Jetak Kermat menyampaikan, tradisi budaya yang sudah ada dari dulu ini merupakan peninggalan warisan budaya turun temurun. “Upacara ritual Karo merupakan salah satu tradisi budaya adat Tengger yang dilaksanakan setiap tahun bagi masyarakat Tengger dan menjadi sebuah tradisi budaya dan kearifan lokal untuk terus terjaga dan harus kita lestarikan,” ungkapnya.

Sementara Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari, SE, mengatakan, budaya Karo ini perlu dijaga dan dilestarikan bersama. Terlebih budaya asli suku Tengger yang berasal dari non muslim ini mendapatkan dukungan penuh dari Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong.

“Dukungan ini menandakan sebuah keberagaman dan ke-Bhinneka-an di Kabupaten Probolinggo. Budaya dan kearifan lokal ini menjadi inspirasi yang nantinya menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara khususnya,” ujarnya.

Sedangkan Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Gus Haris Damanhuri Ramli menyatakan, Kabupaten Probolinggo kaya budaya. “Kita wajib saling menghormati, saling menghargai dan saling memahami satu sama lain. Inilah bentuk ke-Bhinneka-an bangsa Indonesia yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya,” katanya. (Inf/ind)