Buntut Gudang BBM Ilegal Terbakar dan Meledak. Membuat 50 Korban Ancam, Tuntut Ganti Rugi Miliyaran Rupiah.

PROBOLINGGO,Indonesiapost.co – Pasca terbakarnya gudang penimbunan BBM ilegal dan pengecer ratusan ribu liter bensin ilegal, yang terjadi hari Kamis (19/3/2020) lalu, kini berbuntut panjang.

Pasalnya, para korban luka bakar diperkirakan 50 orang dan yang meninggal dunia 3 orang, kini ancam akan menuntut secara hukum pidana dan hukum perdata.

Hal ini disampaikan, Hm Saudi Hasyim Jahur, Ketua LSM Permasa (Perkumpulan Masyarakat Bersatu) Probolinggo, bahwa sekitar 50 orang korban luka bakar dan sebagian korban masih dirawat di beberapa rumah sakit di Probolingggo, akan memberikan kuasa hukum untuk menuntut pemilik gudang penimbunan BBM ilegal, dan juga sebagai penjual ratusan ribu liter bensin premium, yang dijual ke beberapa pengecer di 3 wilayah, Kecamatan Banyuanyar, Kecamaan Tiris dan Kecamatan Maron.

HM Saudi Hasyim Jahur, Ketua LSM Permasa (Perkumpulan Masyarakat Bersatu) Probolinggo, dan salah satu korban anggota, Abd Wahab, Ancam Tuntut Pemilik Gudang Penimbunan BBM Ilegal./indonesiapost.co

Dan tidak tanggung-tanggung, dalam tuntutan perdata nanti, setiap korban akan meminta ganti rugi sebesar Rp 50 juta hingga Rp 100 juta per orang.

“Saya wajib memberikan perlindungan hukum bagi para korban luka bakar itu. Masalahnya, para korban dalam 1 bulan nanti, akan terus merasakan perihnya sakit kulit ditubuhnya. Bahkan mereka sebagian korban, akan cacat seumur hidup. Jadi perlu mereka mendapatkan ganti rugi, karena para korban sudah tidak bisa bekerja lagi, untuk mencari nafkah keluarganya,” tegas H Saudi, Kamis (26/3/2020), dan mengaku para korban masih bertetangga, dan penimbun BBM ilegal itu, dikenal pengusaha kaya hasil berbisnis BBM liar tersebut.

Secara hukum pidana, kata H Saudi, sudah jelas gudang penimbun BBM ilegal terbakar dan mengakibatkan 3 orang meninggal dunia dan 50 orang luka bakar hingga cacat seumur hidup, maka pemiliknya bisa dikenakan pasal 359 HUHP yakni Kelalaian dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara, dan pelanggaran hukum sesuai UU No. 21 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Pasal 55 UU Migas, bahwa orang yang menjual bensin secara ilegal dan penimbunan BBM ilegal bisa dikenai hukuman kurungan selama 6 penjara dan berupa denda sebesar Rp 6 miliar.

“Secara perbuatan hukum pidana, pemiliknya harus dihukum. Secara hukum perdata, pemilik yang melanggar hukum itu harus memberikan ganti rugi uang,” jelas H Saudi, berjanji dalam waktu dekat ia akan mengirim surat ke Kapolres Probolinggo, Kapolda Jatim, Kejaksaan Negeri, dan Pengadilan Negeri Kraksaan.

Dijelaskan lagi, H Saudi, menyatakan terima kasih pada Bupati Probolinggo, Hj Puput Tantriana Sari SE, dengan ikhlas memberi bantuan biaya gratis bagi para korban yang luka bakar yang dirawat di beberapa rumah sakit di Probolinggo dan rumah sakit dr Syaiful Anwar Kota Malang.

“Walau kebakaran itu, bukan termasuk bencana nasional. Ibu Bupati saja, rela memberi bantuan kepada para korban dengan biaya gratis di rumah sakit. Dan itulah kepedulian Ibu Hj Tantri, terhadap rakyatnya,” kata H Saudi, atas nama keluarga korban menyampaikan terima kasih kepada Bupati dan aparat Pemkab Probolinggo.

Bicara soal ganti rugi, para korban sangat kecewa terhadap, Ny Mala Ladiyo, istri pemilik gudang penimbun BBM ilegal tersebut, karena pasca terbakarnya gudang penimbunan BBM itu, juga sempat melecehkan keluarga para korban.

“Saya tidak mau disalahkan. Mereka (korban) itu, siapa yang menyuruh datang ke tempat gudang yang terbakar. Jadi mereka salah sendiri,” kata salah satu korban, menirukan ucapan istri pemilik BBM ilegal, Ny Mala Ladiyo, yang masih tetangganya, padahal para korban datang ke TKP berusaha membantu memadamkan kobaran api tersebut.

Agar tidak menjadi runcing, kemudian Ketua LSM Permasa didatangi beberapa korban, dan meminta perlidungan hukum untuk mempertanyakan proses pidananya ke Polres, dan juga akan mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan.

“Dengan menjual bensin ribuan liter tiap hari pakai mobil pik-up ke pengecer di 3 Kecamatan, mereka punya keuntungan puluhan juta rupiah setiap minggunya. Kok enak, mereka ingin kaya raya tapi mengorbankan para tetangga luka cacat seumur hidup dan juga ada yang meninggal dunia”.

“Pokoknya, para korban luka bakar itu, harus diberi ganti rugi uang. Secara hukum perdata, para korban akan menggugat ke Pengadilan dengan minta ganti rugi uang Rp 1 M lebih,” jelas H Saudi, disambut gembira dengan para keluarga korban luka bakar yang lain.

Seperti diberitakan, pada hari Kamis (19/3/2020) sekitar pukul 15.30 wib sempat gempar dan dibuat panik, setelah gudang tempat penimbunan BBM ilegal terbakar, yang disertai bunyi ledakan sebanyak 5 kali, menyerupai bunyi ledakan bom.

Akibat gudang penimbunan bensin yang terbakar itu, mengakibatkan 3 orang meninggal dunia yaitu, Alimuddin (35), warga Desa Liprak wetan, Kec Banyuanyar, Ladiyo (60), dan Syaiful Rosi (46), keduanya, warga dusun Kertah, Desa Sebaung, Kecamatan Gending, dan korban luka bakar sekitar 50 orang.

Pj Kades Sebaung, Misnaji, mimpin sholat jenazah alm, Syaiful Rosi, Dusun Kertah, Desa Sebaung, Kecamatan Gending./indonesiapost.co

Bahkan Komandan Koramil Gending, Kapten Inf Edi Sotomo dan anggotanya, Serda Markus dan Koptu Santoso, turut terkena luapan api hingga mengalami luka bakar, saat membantu memadamkan kobaran api. Sedangkan anggota Koramil, Koptu Santoso, mengalami luka bakar berat hingga dirujuk kerumah sakit Syaiful Anwar Kota Malang.

Saat terjadi kebakaran, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Drs H Hasan Aminuddin, suami Hj Puput Tantriana Sari SE, Bupati Probolinggo, bersama Dandim 0820 Probolinggo, Letkol Inf Imam Wibowo, Kapolres Probolinggo, AKBP Ferdy Irawan, dan Sekda, H Soerparwijono, Camat Gending, M Abduh, Kapolsek Gending, AKP Ohim, turun langsung mendatangi TKP, meninjau secara dekat ke lokasi kebakaran dan juga mendatangi ke 4 rumah sakit, untuk melihat langsung para korban yang terkena kobaran api hingga luka bakar tersebut.

“Saya datang ke para korban, agar mereka sabar menghadapi ujian ini. Dan saya doakan, semoga cepat sembuh,” kata H Hasan Aminuddin, mengaku biaya perawatan para korban dirumah sakit, akan ditanggung Pemkab Probolinggo.

Sementara, Kapolres Probolinggo, AKBP Ferdy Irawan, mengatakan, saat ini pihaknya masih fokus pada korban.

Namun seterusnya, ia akan memerintahkan Kasat Reskrim untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus penimbunan BBM ilegal, dan kebakaran yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

“Kita akan dalami dulu, apakah kasusnya ada kelalaian dan penimbunan BBM tanpa ijin. Kalaupun nanti, ada pelanggaran tindak pidana murni, maka saya tidak segan-segan untuk menindak tegas,” ujar Kapolres, AKBP Ferdy Irawan, saat disela-sela kesibukan meninjau lokasi kebakaran tersebut.(aud/ind)