Siswandi Acungi Jempol, BNN Berhasil Ungkap Pabrik Narkoba, 5 Pelaku Ditangkap, Sita 2 Juta Pil Syetan. “RT/RW Harusnya Mendukung”

JAKARTA,Indonesiapost.co – Keberhasilan BNN, mengungkap kasus empat rumah produksi narkoba jenis pil PCC di Kafe Lumbung Kopi Kavling DPR Cingised RT 03/04 Kel Cisaranten Endah, Kel Arcamanik, Kota Bandung Jawa Barat, Minggu 23 Pebruari 2020 jam 17.00 wib, mendapat tanggapan positip dari bebagai kalangan, khususnya dari mantan petinggi BNN, Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, Ketua GPAN (Gerakan Peduli Anti Narkoba)

Menurut Siswandi, keberhasilan BNN bersama BNNP Jabar, Polda Jabar dan Polrestabes Bandung, melakukan pengerebekan 4 rumah produksi barang haram dan menyita 25 kotak besar berisi 2 juta pil narkoba, perlu di acungi jempol.

Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, Ketua GPAN (Gerakan Peduli Anti Narkoba) dan petugas BNN gerebek pabrik narkoba di Bandung./indonesiapost.co

Namun keberhasilann itu, jangan puas dulu, tatkala berhasil bisa mengungkap pabrik narkoba berskala besar, juga diperlukan dukungan dari masyarakat termasuk RT dan RW.

“Sekalipun petugas, tiap hari berhasil mengungkap gembong narkoba, namun belum ada dukungan dari masyarakat untuk menyadarkan pemakai narkoba, apalah artinya Indonesia bersih dari narkoba”.

“Jadi, tugas BNN harus dapat dukungan dari semua kalangan termasuk RT dn RW, sebagai ujung tombak di lapangan, agar pengguna narkoba insyaf memakai barang syetan itu,” tegas Siswandi, pada Wartawan melalui ponselnya di Jakarta, Senin (24/02/2020).

Pernyataan, Siswandi, menyikapi maraknya peredaran narkoba yang makin merajalela, bisa jadi kurangnya dukungan dari elemen masyarakat. Dan selama ini, masih belum adanya kesigapan dan dukungan dari pengurus RT atau RW.

Contoh kasus di Bandung Jawa barat itu, jelas Siswandi, akibat warga tidak peduli terhadap lingkungannya. Sehingga pelaku leluasa bisa memproduksi jutaan pil narkoba tersebut.

“Selama ini, RT dan RW, belum terlihat aktif terhadap kondisi warga dan lingkungannya. Kini kecolongan, karena ada Pabrik narkoba bisa tak mengetahuinya. Padahal sindikat terus mencari peluang bisnis haram, demi mencari keuntungan”.

“Kalau kita tidak peduli nasib bangsa, bagaimana ke depan bangsa kita. Selama ini, pastilah narkoba itu akan membinasakan generasi penerus bangsa,” prihatin Siswandi, dan sadar bila masyarakat ikut berpartisifasi aktif dalam pencegahan narkoba, pastilah korbannya juga akan berkurang.

Pertanyaannya, sejauhmana pemerintah (BNN) dapat mengurangi Market/Pangsa, terhadap para penguna narkoba? Dan bagaimana, cara mengatasi agar penyalahguna yang semakin banyak, dan pabrik narkoba ada di mana-mana, harus hilang dari muka bumi pertiwi ini.?

“Jawabnya, berantas untuk suplay, pemasuk diungkap, dan korban pengguna haruslah direhabilitasi,” pinta Siswandi.

Kartu Undangan
Tidak hanya dalam lingkungan padat penduduk, yang perlu diwaspadai peredaran narkoba, namun mencegah barang haram itu juga harus mendapat dukungan dari semua kalangan masyarakat.

Berbagai cara untuk mengelabui petugas, mengedarkan Narkoba sabu, dimasukkan ke kartu Undangan Pernikahan./hm saudi hasyim jahur

Pasalnya, narkoba kini mulai menembus ke pasaran, dengan cara melalui kartu undangan pernikahan. Berbagai cara para mafia narkoba, berusaha untuk mengelabui petugas.

“Kini ada paket narkoba sudah dilakukan dalam bentuk Undangan Pernikahan. Dan cara seperti itu, sudah benar-benar gila,” kesal Siswandi, dengan geramnya.

Perlu diketahui, jumlah peredaran narkoba terus-menerus bertambah banyak, karena marketnya juga bertambah. Maka dalam kondisi ini, harusnya sejalan upaya pemberantasan narkoba, sekaligus dengan pencegahannya. Sehingga, kasus narkoba ini harus didukung dengan masyarakat termasuk pengurus RT dan RW.

“Mereka (mafia, red) mencari regenerasi pengguna maupun generasi baru, sudah masuk ke jaringan korban, mulai dari SD hingga SMA. Bagi siapapun anak berumur 15  tahun, ke depan akan menjadi sell baru dalam bisnis narkoba jaringan baru ini,” ungkap Siswandi, berharap semua kalangan masyarakat, baik Pemerintah, kalangan Politikus, penegak hukum, bersama-sama harus getol memberantas narkoba.

Perlu diketahui, lanjut Siswandi, jumlah narapidana se-Indonesia mencapai 260 ribu orang. Diantaranya 120 ribu orang adalah tahanan narkoba, 40 persennya  para korban dan pecandu narkoba yang dipenjara, bukannya direhabilitasi.

“Semua mengetahui, penjara baik rutan maupun lapas adalah sarang mafia narkoba untuk mengendalikan bisnisnya,” beber Siswandi, mantan Kasat Reskrim Polres Probokinggo 1995 lalu ini.(sis/ind)