Polisi Dibenci Tapi Dirindu. Dalam Bertugas Bisa Jadi, “Makan Buah Simalakama.”

Oleh: HM Saudi Hasyim Jahur.

INDONESIAPOST.CO – HUT Bhayangkara ke 74 tahun, sudah terlihat nyata, aparat Kepolisian RI telah sesuai dengan harapan masyarakat, bahwa Polisi sudah sesuai dengan tugasnya, memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat, sehingga masyarakat bisa hidup tentram, damai dan aman dari gangguan fisik maupun psykis.

Walau sudah berbuat baik dan benar, aparat Polisi dalam melaksanakan tugasnya, namun masih ada saja orang yang melihat sebelah mata. Sehingga ada pribahasa, “Polisi Dibenci Tapi Dirindu”.

Sekalipun Polisi bertugas dengan baik dan benar, tapi masih ada saja orang yang membencinya, akan tetapi masih lebih banyak lagi masyarakat yang Rindu pada Polisi.

Tugas Polisi sebenarnya mulia dan sangat berat, karena Polisi sudah berbuat baik, tapi masih ada orang menilai Negatif. Sehingga ada pribahasa juga menyebutnya, “Makan Buah Simalakama”, artinya mundur salah dan maju pun salah.

Mantan Petinggi BNN, Brigjen Pol (P) Adv Drs Siswandi, Mantan Kasat Reskrim Polres Probolinggo 95, bersama HM Saudi Hasyim Jahur, Pemred indonesiapost.co.

Agar masyarakat tidak melihat sebelah mata, dan tugas Polisi sangat mulia. Ayo..!! Kita renungkan cerita ini, sampai tuntas bahwa ada Polisi sudah berbuat baik, tapi masih dinilai negatif.

Begini ceritanya:
Ada dua orang warga miskin, si Ahmad dan si Bogel, yang hidupnya tiap hari berada di kolong jembatan. Sedangkan si Ahmad, rajin dan taat beribadah. Sedangkan temannya, Bogel, terkesan nakal.

Disaat Ahmad usai sholat dhuhur, tiba-tiba si Bogel nyelentuk. “Mad, kamu tiap hari selalu berdoa memohon pada Tuhanmu. Sekali-kali kamu ngirim surat pada Tuhan, meminta uang pada Tuhanmu,” kata si Bogel pada Ahmad. Kemudian Ahmad yang terbilang lugu itu, lalu membuat surat kepada Tuhan.

Didalam isi suratnya, Ahmad meminta uang. “Tuhan, engkaulah maha pengasih dan maha penyayang. Tolong kami minta uang, tidak banyak hanya Rp. 1 juta saja.” tulis dalam suratnya.

Kemudian surat tersebut dikirim kekantor Pos. Sesampai dikantor pos, petugas kantor pos bingung mendapatkan surat yang ditujukan pada Tuhan. “Mana ada alamat Tuhan di dunia ini,” pikir petugas kantor pos tersebut.

Tak lama kemudian, terbenaklah pikiran petugas kantor pos. “Biasanya tugas Polisi mampu mengatasi surat ini. Kalau begitu, surat ini, saya kirim ke Kapolres saja,” pikir petugas kantor Pos sambil menyerahkan surat tersebut kepada petugas jaga di Mapolres.

Oleh petugas jaga, surat itu lalu diserahkan ke Kapolres. Dan Kapolres pun, sempat bingung ada surat ditujukan pada Tuhan. Kemudian Kapolres penasaran, langsung membuka surat dan dibacalah isi suratnya.

Lebih heran lagi, Kapolres membaca isi surat itu hanya meminta uang Rp 1 juta saja. “Mana mungkin ada Tuhan hidup di dunia ini,” pikir Kapolres.

Lalu Kapolres menyerahkan uang pribadinya Rp 500 ribu ke anggotanya. “Tolong, uang saya ini kasihkan ke pak Achmad, saya kasihan hidupnya di kolong jembatan. Lagian, kita bingung mikir surat ini,” kata Kapolres perintah anggota sambil menyerahkan uangnya.

Namanya anggota, begitu dapat perintah Kapolres untuk menyerahkan uang Rp 500 ribu kepada Achmad, dengan cekatan si anggota langsung berangkat mendatangi lagi si Achmad.

“Kamu minta uang pada Tuhan, mana mungkin nyampek suratnya. Ini sekarang, kamu diberi uang oleh bapak Kapolres sbesar Rp 500,” jelas anggota Polisi, dan setelah menyerahkan uang langsung berpamitan pulang pada Achmad.

Setelah Polisi pulang, si Achmad, bersenang Hati dan mencak-mencak kegirangan.

Sewaktu Achmad, mencak-mencak kegirangan, datang temannya Bogel, yang menyuruh minta uang pada Tuhan itu. “Mat.. sekarang kamu bersenang ria gembira, ada apa? tanya Bogel.

Achmad pun menjawab. “Setelah kamu menyuruh minta uang Rp 1 juta pada Tuhan, lalu saya kirim suratnya. Eh.. ternyata, saya dikirimi uang Rp 500 ribu oleh pak Polisi,” jawabnya.

“Lo…kok dikasih cuma Rp 500 ribu, padahal kamu minta uang Rp 1 juta. Berarti uangnya di kemplang rp 500 ribu oleh si oknun Polisi itu,” kata si Bogel pada Achmad.

Dengan suara agak mengejek, Bogel, nyelentuk lagi. “Itulah oknum Polisi, tugasnya tukang ngemplang,” tambahnya.

Pasukan Brimob Polri saat mengekuti upacara HUT Bhayangkara ke 74 Tahun./ indonesiapost.co

Disinilah sekelumit ceritra, bahwa ada Polisi sudah berbuat baik memberi bantuan uang Rp 500 ribu, kepada warga miskin, ternyata masih dinilai negatif oleh sebagian orang yang iri dan dengki.

Mudah-mudahan, dengan ceritra ini, kita semua bisa mengoreksi diri bahwa janganlah melihat sebelah mata atau ghibah bagi kehidupan tugas Polisi.

Oleh karenanya, pada peringatan HUT Bhayangkara ke 74 tahun, kita menyampaikan Selamat hari Bhayangkara, dan teruslah mengayomi dan melindungi rakyat Indonesia. Polri kini sudah menjadi dambaan kita semua, karena melaksanakan tugasnya secara profesional dan berintegritas. Hidup Bhayangkara, dan Tetap Jaya.!!! (ind/***)