Ketum GPAN, Brigjen Pol (P), Drs Siswandi, Menduga Oknum Penyidik Narkoba Lecehkan SEMA

JAKARTA,Indonesiapost.co – Pengguna narkoba, David Jeremi, ditangkap Petugas Polres Bandara Soetta, hari Kamis (13/2/2020) sekitar pukul 22.00 wib, di belakang Supermarket Duta Buah, Komplek Green Garden, Jalan Panjang RT04 RW03 Kel. Kedoya Utara, Kec. Kebun Jeruk, Jakarta Barat, dan turut disita barang buktinya berupa sabu dibawah 0,4 gram.

Kemudian David Jerami, dijadikan tersangka, dijerat dengan dugaan pasal 114 ayat 1 Jo Pasal 112 ayat 1 Jo Pasal 132 ayat 1 UU Narkotika.

Atas kasus yang menimpa, David Jerami, sebagai pengguna narkoba, mendapat keprihatinan tersendiri bagi mantan Petinggi BNN, Brigjen Pol (P), Drs Siswandi, Ketua GPAN (Gerakan Peduli Anti Narkoba), bahwa penyidik tidak harus menghukum, namun tersangka David Jerami, di hukum dengan mengikuti Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA).

” Hak Tersangka, jangan dikebiri. Penyalahguna itu bukan pengedar, tapi korban dan harus di rehabilitasi,” tegas Siswandi, Rabu (26/2/2020) melalui ponselnya.

Presiden H Jokowi bersama, Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, Ketum GPAN. Foto, Irjen. Pol. Drs. Arman Depari, petinggi aktif, Deputi Bidang Pemberantasan BNN (baju warna biru)./indonesiapost.co

Penyidik, kata Siswandi, harus memiliki hati nurani tatkala melakukan penyidikan terhadap tersangka kasus narkoba, yang notabene penyalahguna adalah korban atau sakit.

“Tersangka ditangkap membeli shabu 0,4 gram (di bawah surat edaran MA) dan untuk digunakan bagi dirinya sendiri. Hasil test urine terbukti positif. Kenapa tidak dilakukan asesmen. Intinya, penyalahguna Narkoba itu adalah sakit harus di rehabilitasi. Saya bicara ini, sesuai UU..?” papar Siswandi, dijelaskan, tersangka hanya diperiksa sebagai korban dari aspek medis, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2011 Tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika, di lakukan di BNN atau IPWL.

“Biarkan hukum berjalan. Silahkan disidik tapi bukan tempatnya di penjara, melainkan direhabilitasi. Jadilah penyidik yang PROMOTER”, pinta Siswandi, yang dikenal getol memberantas narkoba dan setiap minggu melakukan seminar ke berbagai daerah ke sekolah-sekolah, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi, agar generasi bangsa menjauhi narkoba.

Mantan Kapolresta Cirebon ini, berharap bagi para penyidik Narkoba, agar menjadi penyidik yang profesional sesuai tugas pokok sebagai Polisi khususnya penanganan narkoba.

Bukan sebuah prestasi menangkap tersangka narkoba dengan barang bukti hanya 0,4 gram, lalu memenjarakan tersangka penyalahguna narkoba seperti, David Jerami.

“Jangan berbangga hati, bisa penjarakan tersangka David Jeremi. Tolong, penyidik harus punya hati nurani tatkala melakukan penyidikan terhadap tersangka kasus narkoba. Harusnya kasus David Jerami, di rehabilitasi karena korban,” tegasnya.

Penyidik ditengarai, memaksakan kehendak David Jerami, dijadikan pengedar, bukan korban. Sedangkan, pasal 127 klausulnya menyebutkan menggunakan untuk dirinya sendiri,” papar Purnawirawan Perwira Tinggi Polisi, mantan Kasat Reskrim Polres Probolinggo tahun 1995 lalu.

Mantan petinggi BNN, Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, mantan Kasat Reskrim Polres Probolinggo, tahun 1995, reuni bersama HM Saudi Hasyim Jahur, pimred Indonesiapost co.

Analisa, Siswandi, menyebutkan, hasil pertimbangan asesment, tersangka David Jeremi membeli narkoba untuk dikonsumsi sendiri. Barang buktinya masih dalam kategori dibawah ketentuan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA). Tes urine pun positip.

“Jadi,  jangan dikebiri hak tersangka, karena tersangka adalah korban, bukan pengedar, unsur pasal 127 yang salah satu klausulnya menyebutkan digunakan bagi dirinya sendiri,” tandas Siswandi.

Jika tersangka ditangkap dengan barang bukti dibawah SEMA, dan hasil tes urin positif, maka tersangka indikasinya adalah penguna sesuai Pasal 127. Perlakuannya, seharusnya di asesmen dan Perkara tetap jalan sambil menunggu putusan hakim untuk rehabilitasi.

Langkah ini, tambahnya, sesuai visi misi GPAN, yakni mencari, menemukan, mengajak para korban penyalahguna dan pecandu narkoba untuk bertobat dan berobat melalui rehabilitasi.

“Bagi korban penyalahguna dan pecandu narkoba yang melaporkan diri ke IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor) tidak dituntut pidana. Korban dan pecandu narkoba wajib direhabilitasi,” pungkas Siswandi.(sis/ind).