GPAN Mengecam Keras Putusan MA, Gembong Narkoba Kok Dihukum 20 Tahun ?

JAKARTA,Indonesiapost.co Ketua GPAN (Gerakan Peduli Anti Narkoba, Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, mantan petinggi BNN, kaget dan kecewa berat atas putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) terhadap terpidana, Adam, gembong narkoba.

Ketum GPAN (Gerakan Peduli Anti Narkoba), Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, bersama para Pengurus GPAN yang lain./indonesiapost.co

Pasalnya, Mahkamah Agung (MA) dengan tanpa mempertimbangkan rasa keadilan yang hidup ditengah – tengah masyarakat, telah merubah hukuman terpidana, Adam, yang semula Adam dihukum mati diubah menjadi hukuman 20 tahun pernjara.

“Meskipun Hakim bebas dalam menentukan berat atau ringannya vonis hukuman pada terdakwa, seharusnya menghukum gembong narkoba dihukum mati, demi pelaku gembong-gembong narkoba lain ada rasa takut dan kapok untuk berbuat yang sama,”tegas Siswandi, pada Indonesiapost.co Minggu (25/6/19) melalui ponselnya.

Mantan Kapolresta Cirebon ini, menyayangkan dan mengkritisi serta mengecam keras putusan Kasasi Mahkamah Agung RI (MA) itu, karena sudah banyak tahu Indonesia berada dalam keadaan darurat Narkoba, dan Indonesia sudah nyaris menjadi negara terbesar peredaran narkoba se dunia. Ternyata putusan kasasi di MA, hakim nya masih memberikan keringanan hukuman pada bandar narkoba, Adam, hanya divonis 20 tahun, yang semula oleh PN terdakwa divonis hukuman mati.

Mantan Petinggi BNN, Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, bersama beberapa artis saat wawancara dengan para Wartawan./indonesiapost.co

Menurut Drs Siswandi, juga manta Kasat Reskrim Polres Probolinggo 1995 lalu, menjelaskan, bahwa dalam kasus terdakwa, Adam, terbukti melakukan tindak pidana sebagai bagian dari sindikat Narkoba. Karena Terdakwa adalah pelaku kejahatan luar biasa, karena telah mengakibatkan matinya anak-anak bangsa dalam jumlah yang sangat besar, setidaknya 50 orang mati setiap hari.

“Kejahatan ini, sangat mengancam keselamatan bangsa, kejahatan yang berdampak hilangnya satu generasi, kejahatan yang menghambat upaya Pemerintah untuk mewujudkan Generasi Unggul Indonesia Maju, tapi kok masih hakim meringankan hukiman terhadap gembong narkoba itu” jelas Siswandi, mengaku kecewa berat atas putusan vonis tersebut.

Mantan Kasat Reskrim Polres Probolinggo tahun 1995 lalu, Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, mantan BNN, bersama HM Saudi Hasyim Jahur, Pimred Indonesiapost.co.

Lebih jahatnya lagi, kata Siswandi, sudah sering terjadi dan terdapat bukti bahwa selama menjalani masa tahanan di dalam sel pun, pengedar narkoba masih bisa mengendalikan bisnis Narkoba dari dalam Lapas atau Rutan.

“Kalau Indonesia ingin bersih dari Narkoba, segera eksekusi para gembong narkoba, Masalahnya, Indonesia sudah berada dalam keadaan darurat Narkoba. Bahkan saat ini Indonesia sudah berada didalam tahapan bencana NARKOBA,” tegasnya.

Dijelaskan, Siswandi, ada fakta ngeri yang sudah terbukti merusak bangsa, yaitu belasan gembong narkoba terbesar di Indonesia yang sudah inkracht (mempunyai kekuatan hukum tetap) atas putusan Pengadilan divonis mati. Namun hanya 5 raja narkoba yang dilaksanakan eksekusi mati, sedangkan lainnya masih menunggu ketegasan Jaksa Agung untuk segera dilaksanakan eksekusi mati.

“Semoga Jaksa Agung segera melaksanakan eksekusi mati, bagi terpidana yang sudah lama mendapatkan kekuatan hukum tetap divonis mati itu,” pintanya.(sis/ind).