Didepan Hakim Tipikor, Menag Lukman, Akui Terima US$ 30.000 dari Saudi

JAKARTA,Indonesiapost co – Pada sidang kasus jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemag) dengan terdakwa, Haris Hasanuddin, Kakanwil Kemag Jatim dan terdakwa, M Muafaq Wirahadi, Kepala Kantor Kemag Gresik, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (26/6/12) kemarin, ada peristiwa menarik atas pengakuan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, soal menerima uang US$ 30.000 atau Rp 420 juta, dari pejabat Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia.

Pengakuan tersebut, setelah Jaksa KPK, Abdul Basir SH, mengonfirmasi mengenai uang Rp 180 juta dan US$ 30.000 yang disita tim penyidik KPK saat menggeledah laci di ruang kerja Lukman beberapa waktu lalu.

Lukman mulanya menyebut uang tersebut berasal dari tiga sumber, yakni dana operasional menteri, sisa honorarium dan sisa perjalanan dinas baik dalam ataupun luar negeri.

Menag, Lukman hakim, saat menghadiri sidang korupsi jual beli jabatan dengan terdakwa, Haris, Kamenag Kanwil jatim./indonesiapost.co

Namun, Jaksa, kembali mempertanyakan sumber uang US$ 30.000 tersebut. Kemudian Lukman, mengakui uang itu diterimanya dari Panitia Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang digelar di Indonesia. Panitia yang dimaksud, Lukman, merupakan Kepala Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia bernama Syeikh Saad Bin Husein An Namasi dan pendahulunya, Syeikh Ibrahim bin Sulaiman Alnughaimshi.

“Betul, ada dari Syeikh Ibrahim, dan Atase Agama sebelumnya Syeikh Saad,” aku Lukman saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (26/6) itu.

Dijelaskan lagi, Lukman, mengaku uang yang disimpan di laci dikantor Mentri Agama, dan disita oleh penyidik KPK adalah benar adanya uang berbentuk dollar 30.000 US$ atau Rp 420 juta itu, atas pemberian hadiah dari keluarga Kerajaan Arab Saudi, sekitar tahun 2018 lalu.

Lukman menduga uang itu diberikan kepadanya lantaran Kerajaan Arab Saudi puas dengan sukses pelaksanaan MTQ di Indonesia.

“Awalnya saya tidak terima, dia memaksa, saya terima. Tradisi di Arab itu dia kalau senang bisa kasih hadiah. Dia bilang saja, terserah gunakan untuk khairiyah, kebajikan. Itu pertengahan atau akhir tahun lalu. Bahkan lupa saya masih menyimpan dollar itu,” katanya.

Lukman mengaku sebagai penyelenggara negara tidak boleh menerima gratifikasi dalam bentuk apapun. Termasuk uang.

“Itu dia yang saya katakan bahwa saya mengatakan tidak berhak menerima ini. Saya tahulah sebagai penyelenggara negara tidak boleh menerima gratifikasi,” katanya.

Perlu diiketahui, Jaksa KPK mendakwa Haris Hasanudin setelah menyuap Romahurmuziy alias Romy selaku anggota DPR sekaligus Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Lukman Hakim Saifuddin selaku Menteri Agama (Menag).

Suap sekitar Rp 325 juta itu diberikan Haris kepada Romy dan Lukman agar lolos seleksi dan dilantik sebagai Kakanwil Kemag Jatim.

Romy dan Lukman diduga berperan mengintervensi proses pengangkatan Haris Hasanuddin sebagai Kakanwil Kemenag Jawa Timur. Atas intervensi yang dilakukan Romy dan Lukman, Haris Hasanuddin bisa lolos dengan mudah menjadi Kakanwil Kemenag Jatim. Padahal, Haris pernah dijatuhi sanksi disiplin.

Mentri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, saat diwawancarai Wartawan./indonesiapost.co

Namun sidang jual beli jabatan hari Rabu kemarin, masih dua terdakwa yakni, Muhammad Muafaq Wirahadi, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik dan Haris Hasanuddin, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur. Kedua terdakwa diduga menyuap Romi agar mendapatkan jabatan di Kemenag Jatim.

Kedua terdakwa dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.(jak/ind).