Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, “Minta Pecandu Narkoba Tidak Dihukum Tapi Rehabilitasi Medic atau Rehabilitasi Sosial”.

JAKARTA, indonesiapost.co – Pasca tertangkapnya artis komedian, Nunung, beserta suaminya oleh petugas Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, yang diduga kuat penyalahgunaan narkotika jenis sabu, Jumat (19/7/2019) sekitar pukul 13.15 wib, ditangkap di rumahnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, kini berbuntut panjang.

Pasalnya, banyak pakar hukum narkotika termasuk mantan petinggi BBN, Komjen Pol (P) Drs Nanang Iskandar dan Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, ikut bicara agar pengguna narkoba sabu tidak hukum tapi direhabilitasi.

Ketua GPAN (Gerakan Peduli Anti Narkoba), Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, dan kawanan pelawak mantan Srimulat saat wawancara dengan Wartawan terkait temannya, Nunung, ditangkap petugas Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya./indonesiapost.co

Karena selama ini, banyak kalangan artis termasuk tersangka, Nunung, diduga penyalahguna Narkoba sabu, langsung dimasukan sel tahanan Polda Metro Jaya Jakarta. Padahal tersangka, Nunung, itu masuk katagori sakit atau korban, yang seharusnya direhabilitasi medic atau rehabilitasi sosial.

Menurut Ketua GPAN (Gerakan Peduli Anti Narkoba), Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, meminta bagi penegak hukum harus mengormati hukum karena NKRI ini adalah negara hukum.

Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, alumni Akabri tahun 1984, kini Ketua Gerakan peduli Anti Narkoba (GPAN)./hm saudi hasyim jahur

Selama ini, kata Siswandi, mantan Kasat Reskrim Polres Probolinggo tahun 1996 lalu, menganggap Pemerintah gagal menangani korban maupun pecandu narkoba. Seharusnya, para bandar narkoba itulah yang harus dihukum berat seperti dihukum mati.

“Penyalahguna Narkoban adalah korban karena sudah diatur Undang Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 35 Tahun 2009. Dan UU itu dipertegas Serma (Surat Edaran Mahkamah Agung) no 3 tahun 2011 bahwa ketentuan pasal 13 (ayat 3) menyatakan bahwa pecandu narkotika yang sedang menjalani proses peradilan dapat ditempatkan dalam lembaga rehabilitasi medic atau rehabilotasi sosial,”kata Siswandi berharap tersangka Nunung tidak dihukum tapi direhabilitasi medic atau rehabilitasi sosial, saat dimintai tanggapannya, Rabu (28/7/19) melalui ponselnya.

Dijelaskan, Siswandi, mantan Kapolresta Cirebon 2005 lalu itu, berharap pada Presiden H Jokowi dan Wakilnya, KH Ma’ruf Amin bahwa Terpilihnya kembali H Jokowi dan KH Ma’ ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Preisden, merupakan pekerjaan rumah, bagimana dengan komitmennya terhadap pemberantasan narkoba kedepannya.

Presiden H Jokowi periode 5 thn 2014-2019, pernah mengatakan, Indonesia Darurat Narkoba , Pemberantasan terhadap Narkoba sudah bukan ratusan Kg lagi. Namun sudah ber Ton2 dan Berjuta2 pil ETC.

“Mengerikan Suplay ke indonesia, Indonesia Syurga dunia terhadap peredaran Narkoba. Semakin aparat baik Polri maupun BNN mengungkap. Semakin banyak peredaran masuk ke Indonesia. Lalu ada pertanyaan, Dimana Akar masalahnya?

Sema (Surat Edaran Mahkamah Agung) no 03 tahun 2011 tentang pencandu narkoba tidak harus dihukum tapi direhabilitasi medic ataupun sosial./indonesiapost.co

Tak lain, kurang tegasnya penindakan terhadap gembong2 Narkoba termasuk bandar narkotika seperti ganja dan sabu.

“Saya berharap, Presiden H Jokowi, kedepanya 2019 – 2024 harus lebih tegas menindak gembong narkotika dan bandar sabu, ditindak tegas hikuman mati. Bahkan tahun ini masih ada beberapa terpidana mati belum dieksekusi.”

“Kalau Indonesia ingin bersih narkotika, Presiden jangan menunda pelaksanaan Eksekusi Mati dan jangan ditunda2 eksekusinya,”pinta Siswandi, dan berharap penegak hukum jangan salah kaprah karena penyalahguna narkoba tidak harus dihukum tapi direhabilitasi sesuai Serma (Surat Edaran Mahkamah Agung) no 3 tahun 2011, pasal 13 (ayat 4), menyatakan bahwa penyidik, penuntut umum dan hakim, untuk menempatkan tersangka atau terdakwa selama proses persidangan ditempatkan rehabilitasi medic atau rehabilitasi sosial.(sis/ind)