Brigjen Pol (P) Drs Siswandi Dukung Polda Metro Jaya Tahan Oknum Advokat, Permata ND.

JAKARTA,indonesiapost.co – Pasca penahanan tersangka, Permata Nauly Daulay (PND), oknum Pengacara dan kurator PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Petikemas, yang diduga kebal hukum ternyata ditahan oleh petugas penyidik Polda Metro Jaya, pada hari Selasa (11/12/2018) lalu.

Hal ini menjadikan mantan petinggi BNN, Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, juga mantan Kapolresta Cirebon, mengapresiasi dan mendukung tindakan tegas penyidik Polda Metro Jaya tersebut.

Menurut Siswandi, mantan Kasat Reskrim Polres Probolinggo tahun 1995, menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara berdasarkan hukum. Sehingga masyarakat baik kalangan politik, pejabat publik mulai Bupati hingga Presiden dan pejabat tinggi, di mata hukum adalah sama, dan tidak ada kesan kebal hukum.

Apalagi, oknum Advokat (tsk Permata ND) yang dianggap pinter soal ilmu hukum, lalu berani berbuat tindak pidana, maka atas perbuatannya harus ditindak tegas, dan bila perlu hukumannya diperberat.

“Negeri ini tidak mengenal istilah kebal hukum. Siapa pun jika melanggar tindak pidana hukum, ya harus dihukum berat,”tegas Siswandi, Kamis (13/12/2019) saat dimintai tanggapan indonesiapost.co melalui ponselnya.

Mantan Petinggi BNN, Brigjen Pol (P) Drs Siswandi, juga mantan Kasat Reskrim Polres Probolinggo tahun 1995 lalu. Dan Drs Siswandi kini Ketua GPAN, terus berjuang memberantas Narkoba dan tanpa payah berpindah-pindah dari kota ke kota yang lain, melakukan seminar gerakan berantas barang haram “Narkoba”, seperti melakukan seminar di Kabupaten Probolinggo tahun 2009 lalu./hm saud

Dijelaskan, Siswandi, ia sengaja membuka tabir hukum ini, karena tersangka, Permata Nauly D, selama ini tidak pernah kooperatif karena sudah dua kali dilakukan pemanggilan oleh petugas penyidik Polda Metro Jaya, tersangka tidak hadir alias mangkir.

Sinyalemen dengan dugaan kebal hukum, juga terungkap tersangka selama ini menganggap dirinya disebut sebagai oknum Advokat dan kurator sehingga pemanggilan dari Polda Metro Jaya dianggapnya sebagai hal tidak penting.

“Namun Penyidik Polda Metro Jaya telah membuktikan bahwa tidak ada yang kebal hukum di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini,” tandas mantan perwira tinggi yang kini Ketua Umum Generasi Peduli Anti Narkoba (GPAN) Jakarta.

Ditambahkan, tersangka diduga kuat tidak hanya bereaksi di Jakarta pada kasus serupa, ternyata tersangka juga diduga melakukan penipuan dan penggelapan di wilayah hukum Polda Lampung, Polda Sumut, dan Polda Jatim.

“Saya berharap agar tersangka Permata Nauly Daulay tidak ditangguhkan penahanannya, karena tersangka telah beberapa kali melalukan tindak pidana pengelapan lainnya dan telah dilaporkan di Polda Lampung, Polda Sumut dan Polda Jatim,” jelas Siswandi.

Seperti berita sebelumnya, petugas penyidik Polda Meyro Jaya melakukan penyidikan secara profesional terhadap laporan Polisi LP/3342/VI/2018/PMJ/Dit. Reskrimsus, tertanggal 26 Juni 2018, terkait Pasal 378 dan 372 KUHP tentang Penipuan dan Pengelapan.

Selain tersangka, Permata Nauly Daulay, turut ditahan di Polda Metro Jaya, tersangka lainnya atas nama, Tonny Alamsyah, telah dinyatakan (P21) atau berkas dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Tsk, Permata N Daulay, sendiri dilaporkan oleh Kuasa Hukum PT Multicon Indrajaya Terminal, Timotius Noto Susilo pada tanggal 2 Juli 2018 lalu menjadi tersangka pada tanggal 4 Agustus 2018.

Tak hanya dugaan perusakan dan pencurian aset perusaahan, Permata N Daulay juga dilaporkan atas dugaan penggelapan uang klien.

“Kami sudah melaporkan saudara Permata N Daulay sejak 2 juli 2018 dan pada tanggal 4 Agustus Polda Metro Jaya sudah menetapkan tersangka dengan pasal pengrusakan dan pencurian aset serta penggelapan uang klien,” tutur Timotius kepada awak media di Jakarta, beberapa bulan lalu.(sis/ind)